KEBERADAAN BBM subsidi di Mojokerto yang belakangan semakin langka turut berdampak pada angkutan umum. Termasuk tiga koridor bus Trans Jatim di Mojokerto. Operasional transportasi publik besutan Pemprov Jatim bahkan molor 30 menit akibat antrean mengular di SPBU.
Kasi Dalops UPT P3 LLAJ Mojokerto Dishub Jatim Akhmad Yazid menguraikan, puluhan armada bus Trans Jatim koridor II, III dan VI turut kesulitan memperoleh solar subsidi. Dampaknya paling kentara pada tiga hari belakangan. Semula masing-masing bus membeli solar dengan mengantre di SPBU sekitaran rute yang dilintasi tepat ketika BBM habis. ’’Seperti koridor III yang beli di SPBU Balongpanggang dan Bunder, antrenya rata-rata sekitar 30 menit. Karena itu penumpang jadi protes,’’ jelasnya, kemarin (26/6).
Menurutnya, imbas pada keterlambatan operasional angkutan subsidi pemerintah ini pun langsung disiasati operator. Kamis (25/6), masing-masing sopir armada wajib antre solar saat malam hari setelah rampung bertugas. Sejumlah SPBU terdekat dari Terminal Kertajaya Mojokerto jadi opsi utama. ’’Masing-masing sopir langsung menyebar ke SPBU mana yang solarnya tersedia. Mulai antre sekitar pukul 21.30 sampai 02.00 WIB,’’ beber Yazid.
BBM setiap armada diisi penuh sesuai kuota untuk menghindari pengisian solar saat sedang beroperasi atau mengangkut penumpang. ’’Masing-masing armada dua kali perjalanan pulang-pergi (PP) atau empat ritase. Jadi kembali ke terminal solarnya pas, tinggal sedikit,’’ tambahnya.
Menurutnya, bus Trans Jatim mesti memakai Biosolar seharga Rp 6.800 per liter ketimbang solar nonsubsidi atau Dexlite Rp 23 ribu hingga 24.800 per liter. Hal ini menyesuaikan dengan ongkos operasional angkutan yang masih disubsidi Pemprov Jatim. ’’Kalau pakai Dex jelas nggak bisa, operatornya rugi banyak. Karena ini angkutan subsidi, jadi pakai solar subsidi,’’ kata Kepala Terminal Kertajaya Mojokerto, ini.
Belum diketahui pasti penyebab kelangkaan stok solar subsidi. Hingga saat ini, operator Trans Jatim maupun Dishub Jatim belum menerima pemberitahuan resmi dari Pertamina. Meski begitu, pihaknya memastikan tidak ada perubahan tarif Trans Jatim imbas fenomena ini. Penumpang umum cukup membayar Rp 5 ribu per orang untuk rute jauh dekat sekali jalan. Tarif khusus sebesar Rp 2.500 diberlakukan untuk pelajar. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah