Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

CERPEN: Malam Pitung Dina

Fendy Hermansyah • Selasa, 19 Mei 2026 | 05:37 WIB
Ilustrasi malam. (dok JawaPos.com)
Ilustrasi malam. (dok JawaPos.com)

 

Oleh: Moh. Arif Susanto*)

DI luar, hujan turun, ruang tamu rumah Pak Bahri semakin sepi. Suara langkah, gesekan kresek berkat, dan guneman tetangga perlahan lenyap tertelan gemuruh angin bercampur hujan yang semakin deras. 

Kisah orang-orang jujur yang berakhir tragis sering kali menjadi cerminan bahwa kebenaran tidak selalu membawa akhir yang bahagia, Yud, ujar Pak Bahri pelan, sembari memutar jari telunjuk pada bibir cangkir kopi hitamnya yang masih utuh. 

***

Pak Bahri, seorang pensiunan guru honorer yang rambutnya telah memutih seluruhnya, menatap lekat-lekat anak tunggalnya.Yudhi, anak kebanggaan, simbol keberhasilan menjadi orang tua. Ia dosen muda lulusan kampus ternama di dunia, saat ini mengajar ilmu hukum pada universitas negeri di Surabaya Barat. 

Ada banyak tokoh di dunia teguh mempertahankan kejujuran, Pak Bahri membuka percakapan, jiwanya sebagai guru sejarah puluhan tahun seolah bangkit kembali. 

Meski nyawa dan reputasi menjadi taruhannya. Kamu tahu siapa saja mereka?,” Yudhi diam, seolah membiarkan ayahnya bercerita sambil menopang dagunya yang terasa berat. 

Socrates, ucap Pak Bahri. Jemarinya yang keriput mengetuk meja kayu memunculkan suara derap langkah kuda. ”Dia bapak filsafat barat yang sangat menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran dalam berpikir. Dia dihukum mati karena menolak untuk berhenti mengajarkan kebenaran. Ia mempertahankan prinsip dan rela mati dengan meminum racun hemlock.Pak Bahri menjeda kalimatnya, menyesap kopinya, lalu melanjutkan kisahnya. 

Nabi Yahya AS, akhir hidupnya tragis. Ia menolak melegalkan pernikahan Raja Herodes yang melanggar aturan agama. Akibat ketegasan dan kejujurannya dalam menyampaikan kebenaran, ia difitnah dan akhirnya dipenggal kepalanya. 

Yudhi mendengarkan dalam diam, meresapi setiap kata, setiap kisah. Ia seolah merasakan kenikmatan masa lalu. Yudhi kecil gemar menyembunyikan buku sebelum berangkat sekolah. Ia masuk dalam kamar ayahnya, mengambil buku, menaruhnya di bawah kamar yang gelap. Sesampainya di rumah, setelah pulang sekolah, sebelum ayahnya sampai ia membaca setiap kisah dalam buku koleksi ayahnya. 

Bukan cuma mereka, Yud. Ada kisah Nabot, sambung Pak Bahri, mengagetkan, kini mata Yudhi tertuju pada kelambu pemisah ruang tamu dan ruang tengah rumah yang bergoyang goyang, kepalanya semakin berat. 

”Rani. . .” Bisiknya lirih. 

Raja Ahab menginginkan kebun Nabot, namun ia menolak menjualnya karena tanah itu adalah warisan leluhur. Karena kejujuran dan ketaatannya pada hukum, Ratu Izebel merancang siasat, akhirnya Nabot dihukum hingga mati. 

Pak Bahri menatap mata anaknya dalam-dalam. 

Di Inggris, ada Thomas More. Seorang kanselir agung. Ia menolak untuk menyetujui pemisahan Gereja Inggris dari otoritas Katolik Roma dan menolak mengakui Raja Henry VIII sebagai kepala tertinggi gereja. Karena kejujurannya dalam menuruti hati nurani, ia dituduh berkhianat, dipenjara di Menara London, dan akhirnya dipenggal pada tahun 1535. Suara Pak Bahri mendadak memberat. 

Dan di tanah air kita, ada banyak tokoh yang sangat jujur, idealis, dan antikorupsi. Kalau ia seorang polisi, ia tidak segan menindak pelanggar hukum, kalau dia hakim ia tidak segan menjatuhkan hukuman pada siapa pun yang bersalah,” Pak Bahri menghela napas panjang, menutup rangkaian kisahnya. 

Besok pagi, aku menjadi saksi ahli dalam sidang kasus korupsi yang menjerat anak penguasa daerah.” Pak Bahri tersenyum teduh. Ia mengulurkan tangannya yang kasar, menepuk bahu sang anak dengan mantap. 

Yud, Bapak puluhan tahun jadi guru honorer dengan gaji yang pas-pasan. Sering dicemooh orang karena hidup sederhana. Tapi, Bapak tidak pernah menjual integritas sebagai seorang guru. Integritas itu saat ini tumbuh menjadi dirimu.” Mata tua Pak Bahri berbinar penuh ketegasan. 

”Kehilangan nurani dan menjual kebenaran demi rasa aman adalah tragedi. Pergilah. . . 

*** 

”Kejujuran memiliki harga yang sangat mahal, namun warisan moral yang ditinggalkan terus dihormati sepanjang masa.” ujar Pak Bahri lirih, suasana semakin hening. 

Tangan Pak Bahri tidak berhenti berputar di bibir cangkir. Rani menarik napas dalam-dalam. Beban di pundaknya terasa semakin berat. 

Kenapa Bapak menceritakan itu semua?

”Mengapa Bapak kini yang tidak kuat menahan prinsipnya sendiri?” tanya Rani lirih dalam hati sembari tangannya meraih gelas-gelas kosong sisa minuman warga yang membacakan yasin dan tahlili  pada malam pitung dina. (*)

 

Biografi Penulis

Moh. Arif Susanto praktisi pendidikan dan akademisi, aktif sebagai dosen Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.

 

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#cerpen radar mojokerto #jawa pos radar mojokerto #cerita pendek