
Oleh: Moh. Arif Susanto*)
DI luar, hujan turun, ruang tamu rumah Pak Bahri semakin sepi. Suara langkah, gesekan kresek berkat, dan guneman tetangga perlahan lenyap tertelan gemuruh angin bercampur hujan yang semakin deras.
”Kisah orang-orang jujur yang berakhir tragis sering kali menjadi cerminan bahwa kebenaran tidak selalu membawa akhir yang bahagia, Yud,” ujar Pak Bahri pelan, sembari memutar jari telunjuk pada bibir cangkir kopi hitamnya yang masih utuh.
***
Pak Bahri, seorang pensiunan guru honorer yang rambutnya telah memutih seluruhnya, menatap lekat-lekat anak tunggalnya.Yudhi, anak kebanggaan, simbol keberhasilan menjadi orang tua. Ia dosen muda lulusan kampus ternama di dunia, saat ini mengajar ilmu hukum pada universitas negeri di Surabaya Barat.
”Ada banyak tokoh di dunia teguh mempertahankan kejujuran,” Pak Bahri membuka percakapan, jiwanya sebagai guru sejarah puluhan tahun seolah bangkit kembali.
”Meski nyawa dan reputasi menjadi taruhannya. Kamu tahu siapa saja mereka?,” Yudhi diam, seolah membiarkan ayahnya bercerita sambil menopang dagunya yang terasa berat.
”Socrates,” ucap Pak Bahri. Jemarinya yang keriput mengetuk meja kayu memunculkan suara derap langkah kuda. ”Dia bapak filsafat barat yang sangat menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran dalam berpikir. Dia dihukum mati karena menolak untuk berhenti mengajarkan kebenaran. Ia mempertahankan prinsip dan rela mati dengan meminum racun hemlock. ”Pak Bahri menjeda kalimatnya, menyesap kopinya, lalu melanjutkan kisahnya.
”Nabi Yahya AS, akhir hidupnya tragis. Ia menolak melegalkan pernikahan Raja Herodes yang melanggar aturan agama. Akibat ketegasan dan kejujurannya dalam menyampaikan kebenaran, ia difitnah dan akhirnya dipenggal kepalanya.”



