STATUS sosial masyarakat Majapahit salah satunya direpresentasikan melalui busana. Perempuan dari kalangan elite dapat ditandai melalui pakaian yang menutup hampir seluruh tubuh serta aksesori perhiasan. ’’Pada masa itu, pakaian tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga merupakan produk budaya yang menyangkut nilai etika dan estetika serta representasi status sosial,’’ jelas Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim, Tommy Raditya Dahana.
Perempuan dari kalangan kerajaan, bangsawan, dan pendeta Majapahit memiliki ciri khas pakaian yang royal. Mereka antara lain mengenakan kain yang hampir menutupi seluruh tubuh dari dada sampai mata kaki. Kain utuh berupa kemben itu memiliki lipatan-lipatan pada beberapa bagian. Berbeda dengan masyarakat biasa, busana yang mereka kenakan juga memiliki motif indah serta dilengkapi selendang.
Di antara kalangan elite sendiri, lanjut Tommy, juga terdapat perbedaan. Salah satunya yang paling kentara muncul pada penggunaan aksesori tubuh. ’’Kalangan bangsawan dan kerajaan biasanya memakai hiasan dan perhiasan gelang dan kalung, sementara pendeta memakai gelang tipis dan tidak berkalung,’’ tuturnya.
Menurut Tommy, busana perempuan menjadi penanda tren mode di zaman itu. Meski tak seluruhnya menggunakan gaya pakaian yang serupa, setidaknya model kemben dan selendang dari zaman Majapahit kelak menjadi model berpakaian perempuan Jawa kuno hingga masa pra kemerdekaan. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi