Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sejarah Nahdhatul Ulama Mojokerto, Pengurus Pertama Dipimpin Kiai Zainal Alim

Fendy Hermansyah • Kamis, 2 Februari 2023 | 17:41 WIB
SANG GURU: Pusara Kiai Zainal Alim di kompleks pemakaman Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, yang menjadi Rais Syuriyah pertama PCNU Mojokerto. (Rizal Amrulloh/JPRM)
SANG GURU: Pusara Kiai Zainal Alim di kompleks pemakaman Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, yang menjadi Rais Syuriyah pertama PCNU Mojokerto. (Rizal Amrulloh/JPRM)
SEMENTARA itu, para ulama tak hanya bersepakat untuk mendirikan PCNU Mojokerto, tetapi juga langsung membentuk kepengurusan. Dan, sosok yang ditunjuk sebagai pemimpin organisasi bukan berasal dari kalangan pesantren. Rais Syuriah pertama itu disematkan pada sosok guru ngaji, yakni Kiai Zainal Alim.

Ayuhanafiq mengatakan, Kiai Zainal Alim merupakan ulama yang tidak memiliki pesantren. Meski demikian, pria keturunan Arab yang berasal dari Sidayu, Kabupaten Gresik ini tumbuh dan mendapat didikan ilmu agama Islam. ”Karena itu, ketokohan Kiai Zainal Alim sangat dihormati oleh kalangan kiai Mojokerto,” urainya.

Terbukti, Kiai Zainal Alim dipercaya sebagai figur pemimpin setelah terbentuknya organisasi NU pertama di Mojokerto. Mengingat, penunjukan Rais Syuriah berdasarkan kesepakatan bersama para ulama.

Meskipun, pada saat itu telah ada kiai yang mengasuh di Pondok Pesantren di Dusun Besuk, Desa Beratkulon, Kecamatan Kemlagi dan di Dusun Karangsari, Desa Blimbingsari, Kecamatan Sooko. Namun para ulama tetap menyerahkan jabatan tertinggi organisasi pada Kiai Zainal Alim. ”NU yang biasa dipimpin oleh pengasuh pesantren, tapi di Mojokerto dipercayakan kepada sosok yang kesehariannya mengajar ngaji,” ulasnya.

Sebagai perantau, Kiai Zainal Alim bersama istrinya tinggal di Lingkungan Suronatan, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Di kampung tersebut, ia kemudian mendirikan musala. Selain digunakan sebagai rumah ibadah, langgar panggung tersebut juga dimanfaatkan Kiai Zainal Alim untuk mengajarkan ilmu agama. ”Langgar itu digunakan tempat mengaji anak-anak di sekitarnya,” tandas Yuhan.

Seiring berjalannya waktu, jumlah santri dari Kiai Zainal Alim terus bertambah. Sehingga, fungsi langgar pun dikembangkan menjadi lembaga pendidikan formal. Tak lama setelah NU didirikan pada 31 Januari 1926, di musala Suronatan juga dibangun Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU di tahun yang sama.

Lembaga MI pertama di Kota Mojokerto itu kemudian bertransformasi menjadi MI Al-Mushinun yang kini berada Lingkungan/Kelurahan Kauman, Kecamatan Magersari. Tepatnya di belakang Masjid Agung Al-Fattah Kota Mojokerto. ”Keberadaan MI NU ini mengimbangi sekolah yang didirikan pemerintah kolonial,” ulas Yuhan.

Dua tahun setelahnya mendirikan MI, Kiai Zainal Alim didapuk memimpin PCNU Mojokerto. Dalam menjalankan roda organisasi, sang guru ngaji tersebut didampingi Kiai Nawawi selaku katib.

Diperkirakan, Rais Syuriyah pertama PCNU Mojokerto ini meninggal kisaran tahun 1942-1943. Kompleks makam di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto menjadi tempat peristirahatan terakhir Kiai Zainal Alim.
Sayangnya, kondisi pusara Kiai Zainal Alim tampak tidak terawat. Pagar makam tampak lapuk dan rusak. Hanya batu nisan bergores tinta keemasan yang menjadi satu-satunya petunjuk dari tempat bersemayam tokoh pendiri NU Mojokerto ini. (ram/ron)


Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #sejarah nu #Majapahit #NU Mojokerto #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #kerajaan majapahit #sejarah #Kota Mojokerto #mojokerto #nahdhatul ulama #soekarno #trowulan #onde-onde