SEHATI Menguatkan UMKM Desa

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 21:19 WIB
Staf Khusus Menteri Desa & PDT, Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I.
Staf Khusus Menteri Desa & PDT, Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I.

Oleh : Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I.

Staf Khusus Menteri Desa & PDT 

KEMENTERIAN Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) bersama Bank Dunia sepakat segera memulai Program Swasembada Ekonomi Hijau dan Pangan Terintegrasi (SEHATI). Hal ini bertujuan agar target pembangunan desa, yaitu kemandirian, penurunan angka kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak perlu menunggu lama untuk direalisasikan.

Kesepakatan tersebut menjadi langkah awal untuk memastikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat desa. Sebagaimana tujuan awal dibentuk, pogram ini diarahkan untuk memperkuat perekonomian desa sekaligus mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Di titik inilah BUMDes memiliki posisi strategis. SEHATI perlu diterjemahkan menjadi ekosistem ekonomi yang membuat masyarakat desa semakin produktif. BUMDes dapat menjadi salah satu simpul yang menghubungkan program tersebut dengan pelaku UMKM di desa.

Persoalan UMKM desa sebenarnya bukan hanya soal modal. Banyak pelaku usaha memiliki keterampilan dan produk yang baik, tetapi masih menghadapi persoalan bahan baku, peralatan produksi, standardisasi, pengemasan, pemasaran, akses pembiayaan, hingga kepastian pasar. Jika persoalan tersebut ditanggung sendiri-sendiri oleh pelaku UMKM, skala usahanya akan sulit berkembang.

Dalam sebuah kunjungan saya ke BUMDes Medali Beraksi, Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, yang bergerak dalam penguatan UMKM pengrajin sepatu. Keberadaan BUMDes dalam konteks ini menunjukkan bahwa badan usaha milik desa tidak harus selalu membangun unit usaha yang sepenuhnya baru. BUMDes justru dapat memperkuat usaha masyarakat yang telah hidup dan berkembang.

UMKM pengrajin sepatu memiliki potensi ekonomi yang besar karena menyimpan keterampilan produksi sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Namun, industri kerajinan seperti ini juga menghadapi tantangan klasik: bagaimana meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas, memperluas pasar, membangun merek, dan memastikan keberlanjutan usaha.

Ketika BUMDes masuk sebagai penguat ekosistem, persoalan tersebut dapat dikerjakan secara bersama. BUMDes dapat membantu membuka akses pasar, membangun jejaring kemitraan, mendukung pengadaan bahan baku, membantu pemasaran, hingga mendorong peningkatan kualitas produk. Sementara pengrajin tetap menjadi aktor utama dalam proses produksi.

SEHATI tidak cukup hanya menghasilkan kegiatan ekonomi baru. Yang lebih penting adalah bagaimana program tersebut memperkuat usaha produktif yang sudah ada di desa. BUMDes menjadi simpul kelembagaan yang memastikan agar potensi masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri.

Mojokerto sesungguhnya memiliki modal yang cukup untuk membangun ekosistem tersebut. Setiap desa memiliki karakter dan potensi berbeda. Ada desa yang kuat pada pertanian, peternakan, kerajinan, kuliner, wisata, perdagangan, hingga ekonomi kreatif.

Karena itu, pendekatan pembangunan ekonomi desa tidak bisa seragam. Desa perlu menemukan keunggulannya sendiri. BUMDes kemudian mengambil posisi sebagai kelembagaan ekonomi yang membantu mengonsolidasikan keunggulan tersebut.

Desa Medali dengan UMKM pengrajin sepatu memberikan satu pelajaran penting: penguatan ekonomi desa tidak selalu harus dimulai dengan membangun sesuatu dari nol. Terkadang yang dibutuhkan adalah menemukan potensi masyarakat yang sudah ada, kemudian memperkuatnya agar naik kelas.

Konsep ini juga sejalan dengan gagasan desa tematik. Desa dapat membangun identitas ekonomi berdasarkan potensi unggulannya. Ketika identitas tersebut diperkuat oleh BUMDes, UMKM tidak lagi sekadar menjadi usaha perseorangan, tetapi bagian dari rantai ekonomi desa.

Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat diarahkan menuju pasar yang lebih luas. Produk UMKM desa tidak hanya dijual di sekitar desa atau kabupaten, tetapi dapat masuk ke pasar regional, nasional, bahkan ekspor. Sehingga dalam jangka panjang bukan tidak mungkin desa-desa akan menjadi sentra industri dalam berbagai bidang. 

Mojokerto tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah orkestrasi. Pemerintah desa, BUMDes, UMKM, pemerintah daerah, pendamping desa, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas perlu bergerak dalam ekosistem yang sama.

BUMDes Medali Beraksi memberi contoh bahwa badan usaha milik desa dapat mengambil peran dalam memperkuat usaha masyarakat. Jika model semacam ini dikembangkan sesuai karakter masing-masing desa, SEHATI tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi menjadi gerakan ekonomi produktif dari desa. 

Sehingga cita-cita Desa Terdepan menuju Indonesia Emas 2045 menemukan maknanya. Desa tidak lagi dipandang sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai pusat produksi pangan, pusat inovasi, sekaligus benteng pertama dalam menjaga kedaulatan pangan dan kedaulatan bangsa. Bangun Desa Bangun Indonesia. (*) 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
Afif Zamroni gus afif gus afif mojokerto UMKM Desa