Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kementerian Perindustrian Mengurangi Ketergantungan Importasi Bahan Baku Obat (BBO) Industri Farmasi Nasional

Fendy Hermansyah • Senin, 9 Desember 2024 | 15:00 WIB
Oleh: Intan Lady Masita*)
Oleh: Intan Lady Masita*)

*)Mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang

PADA 2024, Kementerian Perindustrian memproyeksikan penurunan ketergantungan importasi BBO atau Bahan Baku Obat industri farmasi yang signifikan. Penurunan ini dikarenakan ketidaksadaran negara terhadap kerugian impor atau memasukkan barang dari luar negeri kedalam negeri yang dilakukan sebelum ini. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian tahun 2020, ketergantungan impor akan berkurang 2,72 persen menjadi sekitar 92 persen.

Sebenarnya untuk menciptakan bahan baku obat, negara kita mampu untuk melakukannya. Dilihat dari kekayaan negara Indonesia ini, banyak bahan-bahan alam yang dapat diteliti untuk dijadikan bahan baku obat negara kita. Permasalahan bergantungnya BBO impor menjadi kelemahan industri kesehatan di Indonesia. Dengan begitu, pemerintah harus terus bekerja keras untuk memutus rantai impor bahan baku untuk obat-obatan yang datang dari luar Indonesia.

Sektor farmasi sering terkena imbas negatif ketika dolar Amerika Serikat (AS) semakin naik mengingat bahan baku obat yang masih bergantung pada impor. Oleh karena itu, perusahaan terpaksa mengeluarkan ongkos yang lebih untuk menutupi kerugian dari selisih kurs yang meningkat. Kecenderungan Indonesia yang mengimpor BBO menjadi penyebab industri BBO di Indonesia tidak dapat berkembang. Untuk mengatasi masalah kefarmasian di Indonesia tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia akan menindaklanjutinya dengan memberikan fasilitas berupa change source atau memprioritaskan produk lokal dalam hal Bahan Baku Obat sehingga dapat meningkat dan tentunya akan menambah jumlah-jumlah bahan baku yang diproduksi.

Dengan sadarnya negara terhadap kerugian impor maka pada tahun ini PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia memproduksi beberapa BBO lokal seperti Simvastatin yang merupakan obat penurun kolesterol golongan statin dan obat ini bekerja menghambat enzim di hati yang berperan membentuk kolesterol sebanyak 4,2 metrik ton. Adapun, dua jenis BBO lokal buatan PT Kimia Farma Sungwon Pharmacopia dengan kapasitas produksi terbesar adalah PVP Iodine yang merupakan agen antiseptik yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka.

Salah satu hal yang dapat mendorong investasi industri BBO lokal agar dapat berkembang adalah kepastian pasar, salah satunya dengan adanya TKDN. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) adalah persentase nilai suatu produk yang dihasilkan dari bahan, komponen, dan proses produksi yang berasal dari dalam negeri. TKDN digunakan sebagai indikator untuk mendorong penggunaan produk lokal dan meningkatkan daya saing industri domestik.

Presiden Direktur PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia Pamian Siregar berharap agar kebijakan tentang TKDN di industri farmasi ini bisa terus dikembangkan. Hal ini perlu dilakukan agar bisa bersaing dengan produk luar negeri. Saat ini yang terlihat dari sisi objektif TKDN ini adalah untuk mendorong kemandirian industri sehingga dapat mendorong bahan baku obat di dalam negeri.

Indonesia mengonsumsi BBO sekitar 3-6 persen dari total produksi BBO dunia. Sementara itu, Amerika Serikat mengonsumsi sekitar 5-6 persen BBO dunia. Industri farmasi luar negeri tidak menyukai kalau ada industri BBO di Indonesia karena Industri farmasi asing ingin industri farmasi di Indonesia impor terus menerus kepada mereka.

Seluruh badan produksi obat telah berpartisipasi memproduksi bahan baku obat baik dari bahan dasar kimia, biologi (biosimilar), vaksin serta juga garam farmasi untuk mendukung pemerintah Indonesia, termasuk Kementerian Kesehatan dalam hal mempercepat kemandirian bahan baku obat agar tidak bergantung pada bahan baku obat luar negeri terus menerus. (*)

Editor : Hendra Junaedi
#opini #industri farmasi #Bahan Baku Obat (BBO).