Kasubag TU Kantor Kemenag Kota Mojokerto
AGAR ular mampu menjaga kelangsungan hidupnya, salah satu cara yang harus dilakukannya adalah mengganti kulitnya secara berkala. Dan untuk mengganti kulit tersebut, sang ular tidak serta merta menanggalkan kulit lamanya begitu saja, tetapi ia harus berpuasa dalam kurun waktu tertentu terlebih dahulu.
Setelah puasanya selesai, maka barulah kulit luarnya terlepas dan muncul kulit yang baru. Namun, meski sang ular sering berpuasa dan mengganti kulitnya, anehnya ia tetap seperti ular semula. Tidak ada perubahan, baik tabiat dan kebiasaannya.
Wajah ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama. Nama ular sebelum dan sesudah puasa juga tetap sama, yakni ular. Pun dengan makanan ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama. Begitu pula cara bergerak hingga tabiat dan sifat sebelum dan sesudah puasa juga tetap sama.
Sementara itu, ulat juga termasuk salah satu hewan yang rakus. Karena hampir sepanjang waktunya dihabiskan untuk makan. Tetapi, begitu sudah bosan menjadi ulat, ia akan melakukan perubahan dengan cara berpuasa. Dan, puasa yang ia kerjakan benar-benar sangat berkualitas.
Mulai dari mengasingkan diri, menjauhkan diri dari tempat makanan, dan membungkus badannya dengan kepompong. Sehingga, ia benar-benar berpuasa bukan sekadar menahan lapar dan haus saja, tetapi mulut, mata dan anggota tubuh lainnya juga berpuasa dan berusaha menghindari segala bentuk hawa nafsu yang dapat mengganggu puasanya.
Dan setelah berminggu-minggu berpuasa, maka keluarlah dari kepompong seekor makhluk baru yang sangat indah bernama kupu-kupu. Kini sang ulat setelah berpuasa dan mengganti kulitnya, ia juga mengalami perubahan pada tabiat dan kebiasaannya.
Wajah ulat sesudah puasa berubah indah mempesona. Demikian dengan nama ulat sesudah puasa berubah menjadi kupu-kupu. Begitu pula makanan ulat sesudah puasa berubah dengan menghisap madu. Jika saat masih jadi ulat cara bergeraknya menjalar, setelah puasa berubah jadi terbang di awang-awang. Bahkan, tabiat dan sifat berubah total.
Ketika masih jadi ulat menjadi perusak alam sebagai hama pemakan daun. Begitu menjadi kupu-kupu, menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuh-tumbuhan dengan cara membantu penyerbukan bunga.
Dari puasa kedua makhluk tersebut, kita bisa memetik kesimpulan terkait hakikat sesungguhnya dari puasa. Kita harus bisa berubah menjadi lebih baik, bukan tetap pada sifat dan kebiasaan lama yang sama. Sebab, puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, namun kita juga harus menahan dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, sehingga ke depan kita bisa menjadi lebih baik lagi dari hari ini.
Puasa adalah sarana pendidikan untuk melatih diri agar kita bisa bersabar dan mampu meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Puasa menjadikan pribadi lebih bertakwa, lebih semangat melakukan amal saleh, dan mampu mengendalikan diri dari segala bentuk hawa nafsu yang mendatangkan dosa.
Semoga dengan puasa ini kita semua mampu menjalankan puasa sebagaimana seekor ulat, sehingga ketika Ramadan usai ada perubahan yang lebih baik dalam diri kita. (*)
Editor : Fendy Hermansyah