”Yang ingin saya sampaikan pada para santri, ada proses panjang. Ada pengabdian panjang yang penguatan-penguatannya itu ditanamkan luar biasa di pesantren. Maka apa yang kita kerjakan sekarang, insya Allah nanti akan ketemu derajat yang mulia.”
Khofifah Indar Parawansa
Gubernur Jatim
PONDOK Pesantren Al-Amin Mojokerto menggelar Haflah Ikhtitamiddurus XXI di Sunrise Hotel, Kota Mojokerto, Sabtu (27/6). Acara ini dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh agama. Antara lain, Gubernur Jawa Timur (Jatim) Dr (HC) Dra Hj Khofifah Indar Parawansa, M.Si, didampingi Kepala Bakorwil Bojonegoro Tri Wahyu Liswati, M.Pd, serta Kepala Biro Kesra Setdaprov Jatim Dr Agung Subagyo, S.STP, M.Si, Plt Asisten Administrasi Umum Setdaprov Jatim Akhmad Jazuli, sekaligus sebagai Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin.
Pada kesempatan tersebut Khofifah memberikan hadiah kepada dua santri berprestasi. Acara juga diisi ceramah ilmiah yang disampaikan Ketua MUI Jawa Timur. Khofifah menegaskan, bahwa kesuksesan sejati tidak hanya ditentukan oleh kerja keras dan produktivitas, tetapi juga harus diiringi dengan ikhtiar religiusitas (riyadhah) yang mampu menghadirkan keberkahan dalam setiap langkah kehidupan.
Menurutnya, tradisi pendidikan pesantren telah membuktikan bahwa keseimbangan antara usaha lahir dan ikhtiar batin merupakan fondasi penting dalam membentuk pribadi yang tangguh, berintegritas, sekaligus membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Al-Amin yang didirikan oleh lima tokoh, salah satunya adalah Plt Asisten Administrasi Umum Sekdaprov Jatim Dr Akhmad Jazuli.
”Al-Mukarom Bapak Kiai Jazuli ini beliau luar biasa. Tidak sekadar menjadi Plt Asisten di Pemprov Jatim, tapi sering menjadi bagian dari penguat bagaimana jejaring ulama dan masyayikh dunia. Dan beliau ini insya Allah berkahnya luar biasa,” kata Khofifah.
Menurutnya, keberkahan merupakan nilai yang terus diupayakan Pemprov Jatim dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Sebagaimana tercermin dalam misi Nawa Bhakti Satya melalui Jatim Amanah dan Jatim Berkah. ”Berkah itu tidak mudah. Bagaimana kita hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dan terus besok lebih baik dari hari ini. Di semua sektor, semua lini, dan di semua level masyarakat,” imbuhnya.
Kepada alumni dan santri Pondok Pesantren Al-Amin, Khofifah menerangkan bahwa usaha untuk meraih keberkahan bukan hal yang mudah. Sehingga dirinya berpesan agar ilmu, nilai, dan semangat belajar yang diajarkan di pondok pesantren tidak dilupakan, meskipun sudah lulus.
”Untuk para santri, saya ingin menyampaikan bahwa ada proses panjang yang harus kita lakukan. Bukan bimsalabim. Proses ini yang saya jalani dari masih di DPR hingga jadi menteri termuda yang pernah dilantik sebelum akhirnya jadi gubernur,” ujarnya. Dikatakannya, riyadhah atau usaha lahir dengan ikhtiar batin sangat penting dalam mencapai kesuksesan. ”Maaf ini sebagai tahadus bini’mah. Apa yang saya lalui bukan sesuatu yang mudah, karena saya bukan anak jenderal, bukan anak guru besar, bukan anak kiai besar,” lanjut Khofifah.
Meski tidak memiliki latar belakang keluarga berada, dirinya berhasil mencetak sejarah. Mengingat, di eranya-lah Kementerian Peranan Wanita diubah menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan. ”Waktu itu Gus Dur (Presiden KH Abdurrahman Wahid) bertanya, apa bedanya peranan wanita dengan pemberdayaan perempuan? Saya jawab, kalau peranan wanita itu women’s role, sedangkan pemberdayaan perempuan itu women empowerment. Akhirnya sama beliau nama kementerian itu diubah,” katanya.
”Yang ingin saya sampaikan pada para santri, ada proses panjang. Ada pengabdian panjang yang penguatan-penguatannya itu ditanamkan luar biasa di pesantren. Maka apa yang kita kerjakan sekarang, insya Allah nanti akan ketemu derajat yang mulia,” tuturnya. Pondok Pesantren Al-Amin disebut Khofifah memiliki tempat tersendiri di hatinya. Sehingga, mantan Menteri Sosial (Mensos) ini menyempatkan diri untuk langsung hadir dalam Haflah Ikhtitamiddurus tersebut.
”Biasanya kalau wisudanya di hotel, saya tidak pernah mau datang. Tapi, saya lihat Pak Kiai Jazuli saja, kata beliau anak-anak ingin suasana yang berbeda. Saya berpesan, di manapun nanti para santri-santri melanjutkan pendidikan dan pekerjaan di sektor manapun, iringi dengan riyadhah untuk mencari keberkahan. Kerja-kerja produktif dengan berbagai ikhtiar-ikhtiar spiritualitas itu menjadi penting,” tandasnya. (bas/ris)
Editor : Fendy Hermansyah