TAK banyak pemilik Daihatsu Xenia yang hobi memodifikasi. Namun, dari sedikit itu, ada Thomas Widodo. Warga Perumahan Mutiara Garden, Lengkong, Mojoanyar, ini telah mengubah kendaraan sejuta umatnya itu dengan tampilan lebih keren dan berbeda.
Pria yang akrab disapa Pakde Wid ini telah mengubah tampilan eksterior, interior, hingga bagian kaki-kakinya. Dan, perubahannya sungguh mencengangkan. Karena, mobil MPV itu telah memiliki power yang luar biasa dan audio yang menggelegar di ruang kabinnya.
Di bagian eksterior, Pakde Wid tak puas hanya dengan tampilan biasa-biasa saja. Xenia type LI keluaran 2004 yang semula berwarna cokelat muda ini dipercantik dengan cutting stiker bertema Ninja Sasuke. Stiker printing dengan dominan warna hitam putih ini menyelimuti bodi samping, kap mesin, dan sebagian bodi kendaraan.
Untuk mempertebal kesan sporty-nya, Pakde Wid melepas grill ori Xenia dengan lekukan ke bawah. Ia menggantinya dengan grill Avanza-S yang menyatu dengan aerokitnya. Sehingga, memberikan kesan one piece di bagian depan depan. ’’ Sidekirt juga pakai Avanza-S,’’ bebernya.
Bumper belakang Xenia yang didesain tanpa banyak lekukan, juga memantik reaksi Pakde Wit. Ia pun mempercantiknya dengan memasang add on-nya Yaris TRD warna hitam. Part ini bersifat plug and play.
Tampilan headlamp Xenia yang biasa-biasa saja, juga diubah menjadi lebih estetik. Pakde Wid menyematkan proyektor halo rim crystal lengkap dengan eagle eye untuk menambah kesan wah kendaraannya. ’’Dan, sudah blackhousing,’’ tambah pensiunan BPS ini.
Good looking dan kesan sporty kendaraan ini juga terlibat di bagian kaki-kakinya. Pakde Wit telah membuat kendaraan ini lebih ceper setelah mengganti menanamkan per custom dengan velg 16 R. Per pabrikan dan diklaim limited edition.
Tak puas hanya mengubah tampilan eksterior, ia juga menyentuh bagian interior. Di bagian inilah, kemewahan mobil ini terlihat sangat jelas. Seperti, di bagian jok. Pakde Wid sudah menggantinya dengan Mbtech Camaro warna hitam merah menyala. Lapisan ini juga menyentuh seluruh panel door trim.
Di bagian kemudi, juga tak luput dari perubahan. Setir pabrikan yang semula menempel, dilepas dan diganti racing celong. Selain memunculkan kesan sporty, lingkar kemudi jenis ini juga memiliki tingkat elegan yang tinggi di kalangan pencinta otomotif.
Kesan istimewa di mobil ini juga terlihat dari sistem menyalakan dan mematikan kendaraan. Mobil dengan 1000 cc ini telah dilengkapi dengan tombol start stop engine. Dan, sudah bisa dikendalikan melalui ponsel pintarnya. ’’Asyiknya itu dipakai untuk memanaskan mesin. Tidak perlu cari kunci dan masuk mobil lebih dulu. Cukup lewat handphone saja,’’ ungkap Pakde Wid.
Antimainstream pria 58 tahun ini dalam mengubah tampilan kendaraan juga nampak di bagian audio. Hampir seluruh ruang bagasi, dipenuhi dengan part-part audio. Ia telah menanamkan 2 unit sub wofer 12 inch dari Venom, 2 unit power JBL, 1 set dome tweeter pro audio dari DB Drive, serta satu unit capasitor Intersys. ’’Kalau yang depan, ada speaker 3 way lengkap dengan pilar custom,’’ beber dia.
Untuk memaksimalkan performa audio, dibutuhkan head unit yang apik. Pakde Wit menyematkan Kenwood DDX418BT. Meski head unit ini bukan produk baru di pasaran, namun sudah memiliki kemampuan yang sudah lengkap. Head unit ini sudah mampu men-setting hingga seluruh bagian speaker yang terpasang.
Kesan indah di kendaraan ini, juga didukung dengan kemampuan dapur pacu. Di bagian mesin Xenia generasi pertama ini, juga tak lepas dari sentuhan. Pakde Wit telah melakukan open filter pipping custom dan memasang stutbar 2 titik by Ultra Racing. Dan, untuk menciptakan kendaraan lebih stabil, sudah dilengkapi Cold Air Intake atau sering disebut CAI. Part custom ini akan menambah tenaga mobil dan membuat kendaraan jadi lebih irit bahan bakar.
Lalu, berapa biaya yang dihabiskan untuk memodifikasi kendaraan ini? Pakde Wit mengaku, biaya terbesar telah dihabiskan untuk audio. Untuk pembelian hardware-nya saja, telah menghabiskan sedikitnya Rp 35 juta. ’’Semua saya kerjakan sendiri. Sehingga, tidak menghabiskan banyak biaya,’’ pungkasnya.
Editor : Imron Arlado