Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Celengan Anak Yatim untuk Lunasi Tagihan Listrik

Moch. Chariris • Selasa, 11 Juli 2017 | 13:26 WIB
celengan-anak-yatim-untuk-lunasi-tagihan-listrik
celengan-anak-yatim-untuk-lunasi-tagihan-listrik

Tak disangka, pencabutan jaringan instalasi listrik di Vila Durian Doa Yatim Sejahtera, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet banyak mengundang simpatik. Anak yatim dan penghuni pun rela urunan membayar tagihan listrik dengan memecah celengan atau tabungan pribadi. Nilainya bahkan terkumpul hingga Rp 10 juta.


Semuanya terasa berbeda dalam sepekan ini di Vila Durian Doa Yatim Sejahtera. Tempat yang dihuni 40 anak yatim piatu dan duafa itu belakangan menjadi viral, dan mengundang aksi simpatik. Baik di sejumlah media sosial facebook, Instagram dan group Whatsapp (WA).


Begitu juga di sejumlah komuntas relawan di Mojokerto. Ya, kondisi itu, menyusul mereka yang hidup di lerang perbukitan dan perbatasan dengan pepohonan pinus belakangan ini tidak bisa menikmati penerangan setelah jaringan instalasi listriknya dicabut PLN.


Seperti yang dilakukan relawan ISM Community. Relawan yang baru dibentuk beberapa bulan lalu, mulai menggalang dana untuk meringankan beban penghuni Vila Doa tersebut. ’’Kami melakukan penggalangan dana sebagai wujud meringankan beban anak-anak kita di panti asuhan,’’ ungkap Agus Wahyu Cahyono, koordinator lapangan Relawan ISM.


Menurutnya, sudah sepekan ini mereka hidup tanpa listrik. Tak ayal, untuk sekadar mengaji dan belajar saja, tidak bisa maksimal seperti sebelumnya. Karena keterbatasan penerangan. Kata dia, kondisi itu setelah sebelumnya instalasi listrik di lokasi.


Di mana di tempat tinggal puluhan anak dari berbagai latar belakang itu diputus sepihak oleh PLN. ’’Kami netral. Tujuan utama kami agar mereka bisa belajar dan mengaji pada malam hari tanpa menggunakan lilin atau damar,’’ tegasnya. Dengan menggalang dana secara mandiri dan swadaya, sejumlah uang yang terkumpul pun langsung diserahkan.


’’Itu kami sekadar membantu biaya denda oleh PLN pada Vila Doa,’’ imbuh Agus. Tak hanya itu, simpatik juga datang dari berbagai lembaga negara dan pemerintahan, termasuk Polres Mojokerto. Kemarin, dengan didampingi pejabat utama, korsp berseragam cokelat itu terjun langsung ke lokasi untuk mengatahui kondisi sebenarnya.


’’Hanya satu, ini keluarga kami yang baru. Jadi, kami ingin saling silaturahmi,’’ ungkap Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Harapantua Simarmata. Tak hanya itu, bagi para penghuni yang kebetulan ingin kembali hidup normal, harus rela mengumpulkan koin rupiah dari hasil tabungan mereka.


Salah satunya adalah Hilmi. Bocah pelajar tingkat SD itu terpaksa memecah celengan untuk membantu biaya pembayaran tagihan rekening listrik. Dibantu temannya, satu per satu koin hasil tabungan diitung dan ditata. ’’Itung uang dari celengan untuk bayar listrik. Karena sudah satu minggu ini, listrik kami diputus,’’ ungkapnya. ’’Alhamdulilah dapat Rp 350 ribu,’’ lanjutnya.


Lebih dari sepekan ini, Vila Doa yang dihuninya memang gelap gulita. Untuk sekadar belajar, dia harus menyalakan lilin sebagai alat penerangan. Pun demikian, saat mereka mengaji dan melangsungkan salat di tempat ibadah.


’’Kami tidak takut gelap. Tapi, kami hanya ingin belajar dengan nyaman tidak terganggu karena gelap seperti sekarang ini,’’ tuturnya. Kata dia, merasakan suasana gelap tanpa penerangan sudah berlangsung delapan hari ini. Setelah sebelumnya, Senin (3/7) jaringan instalasi listrik diputus PLN.


Hal yang sama diungkapkan Puspita, penghuni lainnya. Dia harus memecah tabungan untuk membantu biaya membayar tagihan dan denda listrik Rp 10. Padahal, sejatinya uang celengan pribadinya mulai dari Rp 500, Rp 1000, hingga Rp 2000 untuk membeli kebutuhan sekolah. ’’Tabunagan ini hasil dari uang saku yang saya kumpulkan. Di sekolah jarang jajan,’’ tandasnya. 



 

Editor : Moch. Chariris