Namun, warga masih ketar-ketir banjir susulan karena menilai tumpukan karung pasir itu tidak cukup tinggi.
Mereka meminta Jasa Tirta selaku pelaksana teknis penanganan tanggul menambah ketinggian tanggul setidaknya setengah meter lagi.
Hal ini disampaikan Kepala Desa Wringinrejo Suhartono, kemarin (21/3).
Menurutnya, penggarapan tanggul secara darurat telah tuntas sejak beberapa hari terakhir.
Tetapi, penanganan itu tak lantas menghapus kekhawatiran warga akan banjir yang merendam ratusan rumah pada Sabtu (9/3) lalu.
Musababnya, tanggul yang dibangun oleh Perum Jasa Tirta I setelah berkoordinasi dengan BBWS Brantas dan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Jatim tersebut masih terlalu rendah.
”Warga menghendaki lebih tinggi, tapi dari Jasa Tirta katanya sudah cukup karena anggaranya segitu,” kata Suhartono.
Tanggul Sungai Brangkal di Desa Wringinrejo diketahui jebol sejak Selasa (5/3).
Dinding beton penahan aliran sungai setinggi kira-kira 3 meter itu ambrol sepanjang 30 meter.
Hingga empat hari kemudian, luapan sungai akhirnya merendam permukiman warga.
Setelan banjir, Jasa Tirta memasang gedek dan tumpukan karung pasir (sand bag) di titik tanggul yang jebol sebagai langkah penanganan darurat.
Tinggi tanggul tersebut sejajar dengan fondasi tanggul sebelumnya. ”Nah, di atas fondasi ini ada tanggul cor lagi setinggi satu meter,” jelasnya.
Warga, ujar Suhartono, berharap tanggul sementara itu bisa dibuat lebih tinggi.
Ketinggian tanggul perlu ditambah setidaknya setengah meter lagi atau setara empat karung agar mampu menangkal debit air sungai yang sewaktu-waktu meningkat.
”Karena di tanggul darurat itu bagian atasnya juga ada gedek yang tidak dipasangi karung pasir. Kalau begini, warga masih takut banjir lagi,” bebernya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah