Petirtaan Jolotundo dikenal dengan kejernihan air dan kandungan mineral yang tinggi. Dibangun tahun 997 Masehi, kompleks candi yang dibuat oleh Raja Udayana ini saat kelahiran putranya, Airlangga.
TERLETAK di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, candi Jolotundo tak hanya menyuguhkan keindahan alam di kaki Gunung Penanggungan semata. Namun juga kaya nilai sejarah.
Beberapa sumber sejarah menyebutkan, petirtaan Jolotundo ini merupakan bukti kecintaan Raja Udayana pada putranya yang baru lahir, Airlangga. Kelak, Airlangga pula yang akan menjadi pewaris tahta Kerajaan Kahuripan.
Petirtaan ini merupakan bangunan candi yang cukup besar dan terbuat dari batu adesit dengan relief ukiran tangan yang sangat terampil. Petirtaan Jolotundo mempunyai luas sekitar 228 meter persegi. Dengan panjang sekitar 16,85 meter dan lebar 13,52 meter. Serta memiliki ketinggian sekitar 5,2 meter.
Daya tarik utama lain dari Jolotundo adalah kualitas air yang mengalir dari Gunung Penanggungan. Air yang sangat jernih dan segar ini diklaim beberapa kalangan sebagai air dengan kualitas terbaik kedua di dunia setelah air zam-zam. Tak heran, sebagian besar pengunjung selalu mengambil air Jolotundo untuk dibawa pulang.
Untuk masuk dan menikmati keindahan mahakarya masa lampau ini, pengunjung cukup membayar tiket sebesar Rp 10 ribu. Di lokasi petirtaan ini sudah terdapat banyak fasilitas yang disiapkan pengelola. Di antaranya lahan parkir luas, tempat makan, toilet dan musala. (dwi/ron)
Disparpora Optimistis Penuhi Target
PANDEMI yang berkepanjangan membuat pengunjung Jolotundo menurun drastis. Kondisi ini seiring dengan objek lain yang menjadi andalan Pemkab Mojokerto. Sama-sama mengalami terjun bebas.
Irawan Pujo Sisbowo, koordinator objek wisata Jolotundo mengungkapkan, penurunan pendapatan saat ini diperkirakan bisa sampai dibawah 50 persen dari kondisi normal. Apalagi, selama masa pandemi ada aturan yang melarang objek wisata dibuka atau pembatasan jumlah pengunjung.
Dengan situasi seperti ini, membuat target pendapatan dari objek wisata Jolotundo juga mengalami revisi. Jika semula saat kondisi normal, jumlah pendapatan yang dicanangkan mencapai Rp 800 juta. Namun, kini target tersebut terpaksa harus mengalami revisi yang cukup besar.
Meski begitu, Bowo optimis pembatasan sudah diperlonggar dan angka Covid-19 turun, target pendapatan yang dibebankan Disparpora Kabupaten Mojokerto dari objek Jolotundo akan terpenuhi. Bahkan bisa terlampaui.
’’Hingga pertengahan bulan Juli ini pendapatan kita sudah tembus angka Rp 280 juta. Kita optimis dengan adanya kegiatan spiritual saat malam Jumat Legi atau pas malam 1 Suro. Target pendapatan akan terlampaui. Tentu saja dengan catatan objek wisata sudah boleh dibuka,” tutur Bowo.
Petirtaan Jolotundo memang tak hanya dikenal sebagai objek wisata favorit biasa. Namun juga kerap menjadi jujugan kegiatan spritual. ’’Biasanya saat malam Jumat tertentu atau Malam 1 Suro, jumlah pengunjung cukup membludak,” tandas Bowo.(nto/ron)
Editor : Imron Arlado