Inovasi yang digulirkan Pemerintah Desa (Pemdes) Klinterejo, Kecamatan Sooko, tak pernah berhenti. Selain melestarikan kebudayaan dan sejarah Majapahit, desa dengan tiga dusun ini tengah menggalakkan budi daya ikan untuk mendukung program ketahanan pangan. Meski pernah gagal panen, hasil usaha perikanan di bawah naungan badan usaha milik desa (BUMDes) tersebut kini justru memuaskan.
INISIATIF menggulirkan program budi daya ikan tersebut berangkat dari lahan milik tanah kas desa (TKD) seluas kurang lebih setengah hektare yang tidak produktif. Pemdes bersama Bumdes Kahuripan lantas berinovasi menyulap lahan tersebut menjadi kolam ikan. Terbagi atas tiga kolam berbeda yang didesain dengan posisi sejajar. Luas masing-masing kolam ditentukan antara 17x40 meter. ’’Dulunya lahan TKD ini tidak produktif sama sekali. Setelah kami bangun kolam ikan, alhamdulillah hasilnya cukup membanggakan,’’ kata Sekretaris Desa Klinterejo Amarta Ahmad.
Pemdes menyerahkan sepenuhnya pengelolaan budi daya ikan kepada BUMDes. Dari penanaman bibit ikan, pengelolaan kolam, pembelian dan pemberian pakan, hingga pemasaran hasil panen. ’’Kami percayakan sepenuhnya kepada BUMDes. Peran kami (Pemdes) di sini hanya mendampingi dan memberikan pembinaan,’’ imbuhnya.
Selama tiga tahun berjalan, proses budi daya ikan ini seperti merasakan asam garam. Jatuh dan bangun lagi. Amarta menuturkan, di tahun pertama hasil budi daya tidak bisa langsung dirasakan masyarakat dan desa. Menyusul, kali pertama menanam bibit ikan jenis gurami, Bumdes pernah mengalami gagal panen bahkan kerugian. ’’Itu menjadi pengalaman berharga kami saat menggulirkan program budi daya ikan,’’ paparnya.
Namun, kegagalan tersebut justru menjadi pemantik BUMDes untuk terus bangkit. Mereka lantas beralih budi daya jenis ikan patin. Di tahun kedua, hasilnya berubah drastis dan melimpah. Ikan patin dengan usia antara 3-5 bulan sudah dapat dinikmati masyarakat setempat. Bahkan, hasil panen ikan mampu menembus 7 hingga 8 kuintal lebih.
’’Kita bagikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kolam secara gratis, per KK (kepala keluarga) dapat 1 kilogram. Ini sekaligus untuk mendukung program ketahanan pangan di Desa Klinterejo,’’ tambahnya.
Selebihnya, hasil panen dijual secara umum dengan harga miring alias jauh dari harga di pasaran. Dengan demikian, BUMDes mendapat pemasukan yang cukup memuaskan guna mendukung program budi daya ikan berkelanjutan dan perekonomian warga. ’’Artinya, budi daya ikan patin ini sangat sukses dan bermanfaat bagi masyarakat dan desa,’’ tegasnya.
Memasuki tahun ketiga ini, Pemdes dan BUMDes Klinterejo kian optimistis jika hasil panen ikan patin jauh lebih besar. Dengan bibit 1.500 ekor yang kini tengah menginjak usia lima bulan, ikan-ikan patin sudah siap dipanen dan diperjualbelikan. Utamanya untuk melayani kebutuhan konsumsi ikan bagi warga Desa Klinterejo. ’’Kondisi ikan-ikannya luar biasa. Untuk dua ekor saja beratnya diperkirakan bisa mencapai 1,5 kilogram lebih,’’ tambah Kepala Desa Klinterejo Zainal Abidin.
Meski demikian, saat disinggung mengenai mekanisme penjualan ikan hasil panen, dia mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada BUMDes. Termasuk dalam menentukan harga jual ikan bagi warga setempat maupun masyarakat umum. ’’Prinsipnya harus lebih murah dari harga umum, katakan kalau di luar Rp 25 ribu per kilogram, kita di bawahnya, mungkin Rp 20 ribu per kilogram. Yang penting bermanfaat bagi masyarakat,’’ pungkasnya. (ris/fen)
Editor : Hendra Junaedi