Oleh: Izzatul Milla Rifa’i, S. Pd*)
PONDOK pesantren sebagai lembaga sosial memiliki peran penting dalam membentuk akhlak dan kedisiplinan santri. Namun, proses pembinaan tersebut tidak hanya bergantung pada aturan formal, melainkan juga pada interaksi sosial yang terjadi antara pengurus dan santri. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana interaksi simbolik yang dilakukan oleh pengurus pesantren dapat memengaruhi pembentukan akhlak dan kedisiplinan santri. Selain itu, masih terbatasnya kajian yang mengkaji pesantren dari perspektif interaksi simbolik dalam ilmu sosial menjadi alasan penting dilakukannya penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran interaksi simbolik pengurus dalam membina akhlak dan kedisiplinan santri di Pondok Pesantren Nurul Islam Mojokerto. Secara khusus, penelitian ini ingin mengungkap bagaimana simbol-simbol sosial seperti keteladanan, bahasa, aturan, dan nasihat keagamaan dimaknai oleh santri dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana makna tersebut membentuk akhlak dan disiplin santri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan akhlak dan kedisiplinan santri dilakukan melalui interaksi simbolik yang berlangsung secara intens dan berkelanjutan. Pertama, pembinaan akhlak diwujudkan melalui keteladanan sikap pengurus, penggunaan tutur kata yang santun, serta pemberian nasihat keagamaan yang kontekstual. Santri tidak hanya menerima nilai secara teoritis, tetapi juga menafsirkan simbol-simbol tersebut melalui pengalaman interaksi sehari-hari.
Kedua, kedisiplinan santri dibentuk melalui penerapan aturan dan tata tertib yang konsisten, disertai contoh nyata dari pengurus. Teguran dan sanksi diberikan secara persuasif dan mendidik, sehingga santri memahami disiplin sebagai bentuk tanggung jawab, bukan sekadar paksaan.
Ketiga, pengurus berperan sebagai figur signifikan yang memengaruhi pembentukan konsep diri santri. Respons dan perlakuan pengurus menjadi cermin sosial bagi santri dalam menilai dan menyesuaikan perilaku mereka. Dengan demikian, akhlak dan kedisiplinan terbentuk melalui proses internalisasi makna yang dikonstruksi dalam interaksi sosial di lingkungan pesantren.
Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pembinaan akhlak dan kedisiplinan santri sangat ditentukan oleh kualitas interaksi simbolik antara pengurus dan santri. Interaksi tersebut menjadi sarana utama dalam menyampaikan, membangun, dan menginternalisasi nilai-nilai moral. Pondok pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai lingkungan sosial yang membentuk karakter melalui proses interaksi yang bermakna. Oleh karena itu, peran pengurus sebagai teladan dan komunikator nilai menjadi kunci dalam menciptakan santri yang berakhlak baik dan disiplin. (*)
*) Guru Madrasah Tsanawiyah 2 Nurul Islam Mojokerto
Editor : Fendy Hermansyah