Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Peran Kopontren Nurul Islam dalam Membentuk Jiwa Entrepreneurship Santri

Indah Oceananda • Jumat, 17 April 2026 | 03:16 WIB
Evan Ardhani Prima Agatha, Ibrahim Irza Syafiq, M. Agus Dwi Ramadhani, Muhammad Al Farabi Mumtaaz, Muhammad Farel Nur Fakhur Rokhim, dan Sayid Maulana, 9 Social Class SMP Unggulan Berbasis Al-Qur’an Nurul Islam Mojokerto, Pembimbing: Cyndi Eka Widyawati, M.Pd
Evan Ardhani Prima Agatha, Ibrahim Irza Syafiq, M. Agus Dwi Ramadhani, Muhammad Al Farabi Mumtaaz, Muhammad Farel Nur Fakhur Rokhim, dan Sayid Maulana, 9 Social Class SMP Unggulan Berbasis Al-Qur’an Nurul Islam Mojokerto, Pembimbing: Cyndi Eka Widyawati, M.Pd

 

Oleh: Evan Ardhani Prima Agatha, Ibrahim Irza Syafiq, M. Agus Dwi Ramadhani, Muhammad Al Farabi Mumtaaz, Muhammad Farel Nur Fakhur Rokhim, dan Sayid Maulana. 

PONDOK Pesantren Nurul Islam tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan agama (tafaqquhfiddin), tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter santripreneur. Di sini, para santri dididik untuk memiliki jiwa wirausaha, meskipun dimulai dari lingkungan pesantren sendiri. Tujuannya, agar santri memiliki daya saing yang tinggi. Baik di dalam pesantren maupun ketika terjun ke masyarakat. 

Di Pondok Pesantren Nurul Islam diterapkan pengelolaan koperasi pondok pesantren (kopontren) yang menyediakan berbagai kebutuhan santri. Seperti alat tulis, atribut sekolah, makanan, dan minuman. Kopontren tidak hanya berfungsi sebagai tempat memenuhi kebutuhan, tetapi juga berperan penting dalam pemberdayaan ekonomi santri, agar siap menghadapi tantangan ekonomi modern dan persaingan global. Selain itu, santri juga dibekali pengetahuan tentang ekonomi secara langsung. 

Kopontren di Pondok Pesantren Nurul Islam memiliki ciri khas, yaitu menggabungkan prinsip syariah dengan manajemen bisnis modern. Dalam praktiknya, nilai-nilai seperti keadilan, transparansi (amanah), dan kejujuran selalu diterapkan. Kopontren juga menjadi laboratorium kewirausahaan, di mana santri tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik di lapangan. 

Seperti mengelola stok barang, melakukan pemasaran, dan memberikan pelayanan kepada konsumen. Dari sini, santri mendapatkan pengalaman tentang dunia usaha. Pesantren juga menanamkan pola pikir bahwa wirausaha tidak hanya untuk mencari keuntungan, tetapi juga untuk mendapatkan keberkahan dan memberikan manfaat. 

Karena itu, santri diajarkan untuk menghindari praktik yang dilarang dalam Islam. Seperti riba, gharar (ketidakpastian), dan maisir (perjudian). Selain itu, kopontren membantu santri dalam mengembangkan keterampilan berwirausaha, memberikan akses modal, serta membuka peluang usaha. Santri juga mendapatkan pelatihan dalam manajemen keuangan, pemasaran, dan pengelolaan usaha. Bahkan, mereka didorong untuk menciptakan produk khas pesantren yang bisa dipasarkan di dalam maupun di luar lingkungan pesantren. Hal ini membuat santri menjadi lebih mandiri, kreatif, inovatif, dan memiliki jiwa kompetitif.

Dengan demikian, koperasi pondok pesantren (kopontren) bukan hanya sekadar unit usaha, tetapi menjadi sarana penting dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan santri. Melalui praktik langsung, penanaman nilai-nilai syariah, serta dukungan pelatihan dan fasilitas, kopontren mampu mencetak generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga mandiri secara ekonomi dan mampu berkontribusi dalam perekonomian masyarakat. (*)

 

*) 9 Social Class SMP Unggulan Berbasis Al-Qur’an Nurul Islam Mojokerto

Pembimbing: Cyndi Eka Widyawati, M.Pd

 

Editor : Fendy Hermansyah
#jurnalisme warga #opini radar mojokerto #opini siswa