Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kisah Mamat, Bocah Penyandang Disabilitas di Kota Mojokerto, Berjuang Penuhi Kebutuhan Hidup

Moch. Chariris • Jumat, 15 Desember 2023 | 15:50 WIB

BERJUANG SENDIRI: Mamat, saat membantu menyeberangkan pengendara di perlintasan KA Jalan Brawijaya, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kamis (14/12).
BERJUANG SENDIRI: Mamat, saat membantu menyeberangkan pengendara di perlintasan KA Jalan Brawijaya, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kamis (14/12).
Rela Bantu Jaga Perlintasan dan Jukir Minimarket

Nasib membawa Mamat harus menghidupi dirinya dengan membantu menjaga perlintasan kereta api (KA), dan sebagai juru pakir (jukir) minimarket.

Bocah 9 tahun itu juga seorang penyandang disabilitas. Bahkan, tidak ada waktu untuk bermain atau sekadar bersekolah laiknya anak-anak seusianya.

MOCHAMAD KHASIB, Kranggan

MASA kecil merupakan momen dunia anak bersama orang tua dan keluarga. Di samping bermain dan mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, hal itu belum dirasakan Mamat, bocah 9 tahun diduga penyandang disabilitas.

Belakangan ini, hari-harinya justru dimanfaatkan untuk membantu menjaga menyeberangkan pengendara di kawasan perlintasan KAI double track, Jalan Brawijaya, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

Dia rela berdiri hingga berjam-jam di bawah terik matahari dan bahkan basah kehujanan. ’’Setiap hari dia berjaga. Biasanya dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB,’’ ungkap Zulfiqih, 27, penjaga pintu perlintasan KAI.

Selama menjalankan misi sosialnya itu, setiap harinya Mamat hanya mengenakan rompi sembari beberapa kali terdengar meniup peluit.

Lalu tampak, menyeberangkan dan mengawal pengendara yang berjalan dari arah Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, menuju Jalan Hayam Wuruk dan jalan-jalan protokol di Kota Mojokerto.

Dengan menadahkan topinya ke arah pengendara motor dan mobil pribadi yang melintas, dia juga berharap mendapat belas kasihan. Jika sedang beruntung, ada yang memberinya uang recehan hingga Rp 2 ribuan.

Dari usahanya itu, tidak jarang bocah berbadan kurus, setinggi 130 cm, itu mampu mengantongi Rp 50 ribu dalam sehari.

Ketika memasuki sore hari, Mamat kerap dijemput seseorang yang belum diketahui identitasnya. Zulfiqih menduga orang tersebut bukanlah orang tua atau keluarga Mamat.

’’Sore menjelang Maghrib pukul 17.00 WIBitu, ada seseorang berusia lansia mengajak Mamat pulang, dengan menggendongnya secara paksa. Saya menduga itu bukan orang tua Mamat. Karena perilakunya tidak seperti orang tua pada umumnya,’’ paparnya.

Belakangan diketahui Mamat juga tidak bersekolah, karena keterbatasan komunikasi atau penyandang disabilitas.

Sehingga, saat membantu menyeberangkan pengendara, Zulfiqih mengaku, sering kali meminta Mamat menjauh dari rel ketika ada KA melintas, demi keselamatan sang anak.

’’Kalau dia tidak mengganggu saat kereta melintas tidak apa-apa. Tapi, kalau posisinya membahayakan dirinya, ya saya minta untuk menepi,’’ imbuh pria asal Blitar ini.

Hal yang sama diceritakan Supinah, pemilik warung tidak jauh dari rel KA.

Menurutnya, belakangan diketahui Mamat tinggal tidak jauh dari Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Namun, lanjut Supinah, kehidupan Mamat memang tidak sewajarnya anak usia 9 tahun.

Sehingga, selama dua bulan terakhir ini, dia lebih memilih menekuni menjadi juru parkir di minimarket, dan membantu menjaga perlintasan KA.

’’Mamat mempunyai satu adik perempuan, bapaknya masih dipenjara. Sedangkan ibunya menikah lagi,’’ tutur Supinah. (ris)

 

 

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#penyandang #disabilitas #JAGA #bocah #perlintasan #difabel