Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

4 Varietas Kopi Penanggungan, Ditanam Tumpang Sari, Hasilkan Cita Rasa Khas

Fendy Hermansyah • Rabu, 15 Juni 2022 | 16:55 WIB
PANEN: Petani kopi yang tergabung dalam Kelompok Tani Bon Tugu tengah memanen buah kopi yang sudah matang, di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.
PANEN: Petani kopi yang tergabung dalam Kelompok Tani Bon Tugu tengah memanen buah kopi yang sudah matang, di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.
Di lereng Gunung Penanggungan, tanaman tumbuh subur. Ditanam dengan cara tumpang sari, biji kopi yang dihasilkan sangat istimewa. Setiap butiran kopi, akan menghasilkan aroma yang sangat khas.

MARTDA VADETYA, Trawas, Jawa Pos Radar Mojokerto

PAGI itu, terik matahari terasa teduh. Sorot sinar matahari, terhalang rerimbunan hamparan hutan di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas. Sejuknya udara pegunungan, menambah rasa dingin yang menyengat kulit.

Di sela-sela pepohonan pinus, puluhan orang tengah berkumpul di hamparan kebun kopi seluas lebih dari satu hektare itu. Mereka adalah anggota Kelompok Tani Bon Tugu. Mereka tengah bersiap-siap memanen sejumlah pohon kopi yang sudah berbuah. Utamanya pada pohon yang buah kopinya sudah berwarna kuning kemerahan.

”Tujuannya ini memang untuk petik kopi bareng. Agar panen di tahun ini hasilnya bisa melimpah dan kualitasnya terjaga. Termasuk agar pohon kopi terawat dan bisa sehat,” ucap Wahyu Sanyoto, Ketua Kelompok Tani Bon Tugu.

Pria yang menggeluti kopi sejak 2013 ini mengaku senang lantaran pertanian kopi di wilayah Trawas bertumbuh pesat. Sebab, sebelumnya lahan di ketinggian 1000 mdpl ini hanya ditanami ashitaba. Namun, kini ditanam secara tumpang sari dengan pohon kopi. Sehingga, sejumlah pohon di sana baru melewati panen pertama setelah usianya lebih dari dua tahun.

Suhu dingin di wilayah selatan Kabupaten Mojokerto itu sangat mendukung pertumbuhan tanaman kopi. Sehingga, saat ini sudah ada empat varietas kopi yang ditanam di hutan lereng Gunung Penanggunan tersebut. Yakni, robusta, arabika, ekselsa, serta liberika. Sebelumnya, kebun kopi di wilayah trawas didominasi jenis kopi robusta dan arabika saja.

Kini, para pecinta kopi hingga barista tidak perlu bingung mencari biji kopi kualitas jempolan. Terutama specialty coffee hasil panen dari wilayah Trawas. Sebab, teknik penanaman pohon kopi secara tumpang sari dipercaya menghasilkan aroma dan cita rasa yang khas. Umumnya, cita rasa itu mirip daun min. ”Untuk specialty coffee, di sini kami pakai takaran 80 persen arabika, 20 persennya ekselsa dan robusta,” ungkapnya.

Menggandeng sejumlah barista asal Trawas, pihaknya juga menggelar seduh kopi bareng di tengah kebun kopi. Tak lain, sebagai wujud syukur agar masa penan raya kopi bisa berjalan lancar dan membuahkan kopi yang ciamik untuk diolah.

Sekaligus mengangkat perekonomian petani kopi ditengah desakan tengkulak untuk keperluan industri. ”Kami berharap ini bisa menjadi kegiatan tahunan. Karena sekaligus menjadi promosi wisata alamnya,” tandas Wahyu. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#Feature Jawa Pos Radar Mojokerto #kopi lereng penanggungan #boks radar mojokerto #varietas kopi trawas #kopi trawas