Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Menolak Punah, Sepatu Brand Mojokerto Gencar Pemasaran Online dan Offline

Khudori Aliandu • Senin, 22 Juni 2026 | 02:04 WIB
BRAD LOKAL: Cendho, sepatu brand local asal Dusun Tirim, Desa Plososari, Kecamatan Puri yang menolak punah.
BRAD LOKAL: Cendho, sepatu brand local asal Dusun Tirim, Desa Plososari, Kecamatan Puri yang menolak punah. 

’’Seperti lem itu biasanya Rp 150 ribu menjadi Rp 200 ribu. Itu yang kemasan kecil, belum bahan yang lain,’’

Matadi Suyanto

Owner Brand Cendho

SEMENTARA itu, industri kecil menengah (IKM) alas kaki rumahan di Dusun Tirim, Desa Plososari, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto kian menghadapi ujian ganda. Lonjakan nilai tukar dolar AS memicu kenaikan harga bahan baku impor pendukung, sementara persaingan harga di ranah marketplace semakin berdarah-darah.

Matadi Suyanto, salah satu perajin sepatu dengan brand Cendho mengaku, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang memukul langsung ongkos produksi para perajin sepatu. Sejumlah bahan baku pun turut terkerek naik. ’’Seperti lem itu biasanya Rp 150 ribu menjadi Rp 200 ribu. Itu yang kemasan kecil, belum bahan yang lain,’’ ungkapnya.

Akibatnya, biaya produksi membengkak antara 15 hingga 25 persen dalam beberapa bulan terakhir. Tak adanya support pemerintah secara langsung membuat pelaku IKM kian tercekik. ’’Untuk UMKM saat ini itu sangat prihatin,’’ tuturnya.

Kondisi ini diperparah dengan situasi di platform belanja daring (marketplace). Algoritma pencarian yang sering kali mengutamakan produk termurah membuat sepatu hasil kerajinan tangan lokal kalah bersaing visibilitas dengan produk impor massal yang dijual dengan harga miring. Biaya iklan digital di marketplace yang kian mahal mempersempit ruang margin keuntungan bagi para pelaku IKM.

’’Kalau ikut perang harga di marketplace, kami pasti mati pelan-pelan. Modal lem dan sol saja sudah naik gara-gara dolar. Akhirnya kami harus kreatif, terima jasa pembuatan sepatu dari merek lain. Alhamdulillah terbantu ada kerja tambahan,’’ paparnya.

Kendati begitu, di tengah gempuran ekonomi, pihaknya tetap bersyukur. Sebab, dalam dua hari pihaknya masih bisa menjual lima kodi produk sepatu dengan brand lokal bernama Cendho dari sebelumnya sehari bisa 10 kodi. ’’Satu kodinya Rp 1 juta, berarti ada 5 kodi dalam dua hari termasuk Rp 5 juta. Jadi seminggu ya Rp 15 jutaan,’’ tandasnya.

Meskipun persaingan kian ketat, integritas kualitas dan pemanfaatan cerdas fitur digital interaktif menjadi kunci pembuka jalan bagi produk lokal untuk memenangkan pasar domestik kembali. Praktisnya, untuk menangkap peluang ia lebih fokus pada pembuatan sepatu sekolah dan olahraga. ’’Prinsipnya, kalau untuk perajin yang menerapkan sistem offline dan online, Insya Allah akan tetap bertahan,’’ pungkasnya. (ori/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#sepatu mojokerto #brand sepatu #Pemkab Mojokerto #brand lokal #umkm mojokerto