’’Konsep produk Upject ini fashion upcycle berbasis ekonomi sirkular. Kami mengolah limbah jeans lama pilihan menjadi produk baru bernilai tinggi, seperti sepatu, tas, topi, vest,’’
Liana Nirawati
Owner Brand Upject
Tren sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan kini semakin diminati masyarakat, khususnya generasi milenial. Di tangan Liana Nirawati, 29, seorang warga Desa Kepuhanyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, limbah kain jeans bekas yang awalnya menumpuk tak terpakai, kini disulap menjadi sepatu kasual modis bernilai ekonomis tinggi lewat brand lokal bernama Upject.
KINI, produk sepatu daur ulang tersebut tidak hanya diburu pasar domestik, melainkan mulai menarik perhatian konsumen mancanegara hingga menembus pasar ekspor. Ide kreatif ini lahir dari keresahan personal Liana saat melihat tumpukan celana jeans bekas memenuhi lemari pakaiannya. Alih-alih membuangnya dan memperpanjang rantai limbah, ia memutar otak untuk memberikan kehidupan kedua pada kain premium tersebut. ’’Meski berbahan dasar daur ulang, sepatu kasual ini kami rancang dengan model yang sangat modis, mengikuti selera anak muda, namun tetap ditawarkan dengan harga yang terjangkau,’’ ungkap Liana.
Di tengah gempuran industri fesyen cepat, Liana mengakui Upject memilih jalan yang berbeda. Pertumbuhan bisnisnya memang tidak instan, namun konsistensinya membuahkan fondasi usaha yang kokoh. ’’Alhamdulillah, tetapi memang kami bukan yang grow fast. Kami pertumbuhannya cukup slowly karena beberapa faktor. Tetapi biar pun begini, Alhamdulillah masih tetap bertahan sampai saat ini,’’ tegasnya.
Faktor utama yang membuat Upject mampu bertahan sejak dirintis awal 2022, adalah nilai atau value yang mereka tawarkan kepada konsumen. Upject tidak sekadar menjual alas kaki, melainkan menjual cerita kepedulian terhadap bumi. ’’Konsep produk Upject ini fashion upcycle berbasis ekonomi sirkular. Kami mengolah limbah jeans lama pilihan menjadi produk baru bernilai tinggi, seperti sepatu, tas, topi, vest,’’ paparnya.
Melalui konsep ini, Liana mau membuktikan kalau limbah dapat memiliki kehidupan kedua. ’’Kami memperpanjang siklus hidup jeans tersebut, menjadikan produk yang bernilai plus memberikan dampak sosial dan lingkungan,’’ urainya.
Di lain sisi turut serta mengurangi timbunan limbah fesyen yang kian hari semakin menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Menurutnya, kesadaran masyarakat yang semakin terbuka terhadap produk ramah lingkungan membawa berkah tersendiri bagi Upject. Saat ini, pangsa pasar Upject perlahan tapi pasti mulai merambah ke kancah internasional. ’’Pangsa pasar Bismillah merambah ke ekspor. Masih belum (ekspor massal), ini buyer-nya saja yang langsung beli ke saya, tidak kirim keluar. Buyer Singapura,’’ jelas Liana.
Peluang emas ini kian terbuka lebar setelah Liana mengikuti program pembinaan ekspor dari Bank Indonesia (BI) Jawa Timur. Melalui program tersebut, ia mendapatkan banyak wawasan baru mengenai potensi pasar internasional. ’’Alhamdulillah, kemarin ikut programnya BI Ekspor Jatim dibukakan insight-insight baru, bahwa peluang produk yang semacam Upject ini memang bagus di luar negeri,’’ pungkasnya optimis.
Dengan kombinasi kreativitas, kepedulian lingkungan, dan dukungan ekosistem yang tepat, Upject menjadi bukti nyata dari desa di Mojokerto, limbah sandang bisa diubah menjadi produk mendunia yang berdampak positif bagi bumi. ’’Untuk omzet kurang lebih di angka Rp 100-an jutaan ke atas per tahun,’’ pungkasnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah