JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Melemahnya Rupiah terhadap Dolar AS bukanlah fenomena baru, namun setiap kali terjadi, dampaknya terasa langsung oleh masyarakat. Kurs yang melemah membuat harga barang impor meningkat, sehingga biaya hidup sehari-hari ikut terdongkrak.
Salah satu sektor yang paling cepat merasakan dampak adalah harga kebutuhan pokok. Meski sebagian besar bahan pangan diproduksi dalam negeri, banyak komoditas seperti kedelai, gandum, dan gula masih bergantung pada impor. Ketika Rupiah melemah, harga barang-barang ini naik.
Baca Juga: DPRD Kabupaten Mojokerto Godok Raperda Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dan Wasbang
Transportasi juga terkena imbas. Harga BBM yang sebagian besar dipengaruhi oleh nilai tukar dolar membuat ongkos kendaraan pribadi maupun umum meningkat. Akibatnya, biaya perjalanan sehari-hari masyarakat ikut bertambah.
Selain itu, biaya pendidikan juga terdampak. Banyak sekolah dan universitas yang menggunakan buku, perangkat teknologi, atau bahkan tenaga pengajar dari luar negeri. Ketika Rupiah melemah, biaya operasional meningkat dan bisa berimbas pada kenaikan uang sekolah.
Baca Juga: Angkutan DAMRI Mojokerto-Lamongan Masih Buram
Di sektor kesehatan, obat-obatan impor menjadi lebih mahal. Hal ini membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk perawatan medis, terutama bagi pasien yang membutuhkan obat khusus yang tidak diproduksi di dalam negeri.
Masyarakat kelas menengah ke bawah paling merasakan tekanan. Inflasi yang dipicu oleh melemahnya Rupiah membuat daya beli menurun. Akibatnya, banyak keluarga harus menyesuaikan pola konsumsi dengan mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan non-esensial.
Di sisi lain, pelaku usaha ekspor justru bisa mendapatkan keuntungan. Produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga dalam dolar relatif lebih murah. Namun, keuntungan ini sering tidak cukup untuk menutupi kerugian di sektor lain.
Baca Juga: Baru Dua SMK di Mojokerto yang Terapkan Masa Studi Empat Tahun
Pemerintah biasanya merespons dengan kebijakan moneter dan fiskal, seperti intervensi Bank Indonesia atau penyesuaian suku bunga. Tujuannya adalah menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak terlalu membebani masyarakat.
Namun, kebijakan tersebut tidak selalu langsung terasa. Masyarakat tetap harus menghadapi kenyataan bahwa harga barang sehari-hari naik, sementara pendapatan tidak bertambah. Hal ini menimbulkan tekanan psikologis dan sosial.
Pada akhirnya, melemahnya Rupiah terhadap Dolar AS adalah pengingat bahwa ekonomi global sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari. Masyarakat perlu lebih bijak dalam mengatur keuangan, sementara pemerintah harus terus mencari cara untuk menjaga stabilitas agar dampak negatif tidak semakin meluas.
FERDI
Editor : Imron Arlado