JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir.
Bahkan, kurs rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS dan menjadi perhatian masyarakat serta pelaku usaha di Indonesia.
Pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga mulai mempengaruhi harga berbagai barang kebutuhan sehari-hari.
Hal ini terjadi karena Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku, pangan, energi, hingga produk elektronik yang menggunakan transaksi dolar AS.
Harga Barang Impor Berpotensi Naik
Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis menjadi lebih mahal. Kondisi ini membuat produsen dan distributor harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli barang dari luar negeri. Akibatnya, harga jual kepada konsumen ikut naik.
Beberapa produk yang diprediksi terdampak antara lain:
-
Elektronik dan gadget
-
Suku cadang kendaraan
-
Produk kesehatan dan obat-obatan
-
Bahan pangan impor seperti gandum dan kedelai
-
Kosmetik serta produk perawatan
Ekonom menyebut fenomena ini sebagai “inflasi impor”, yakni kenaikan harga akibat pelemahan nilai tukar mata uang domestik terhadap dolar AS.
Kebutuhan Pokok Bisa Ikut Terdampak
Meski masyarakat membeli barang menggunakan rupiah, dampak pelemahan kurs tetap terasa pada kebutuhan harian.
Baca Juga: DPRD Kabupaten Mojokerto Godok Raperda Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dan Wasbang
Hal ini karena banyak bahan baku produksi dan distribusi masih bergantung pada impor.
Harga minyak dunia yang dibayar menggunakan dolar AS juga dapat memicu kenaikan biaya transportasi dan logistik. Jika biaya distribusi meningkat, maka harga kebutuhan pokok di pasar ikut terdorong naik.
Beberapa ekonom memperkirakan dampak terhadap harga barang bisa mulai terasa dalam satu hingga tiga bulan ke depan apabila pelemahan rupiah terus berlanjut.
Dunia Usaha Mulai Khawatir
Pelaku usaha, termasuk UMKM dan pedagang kecil, mulai merasakan tekanan akibat naiknya harga bahan baku impor.
Bahkan pengusaha warteg hingga industri otomotif disebut mulai mengkhawatirkan kenaikan biaya produksi akibat kurs dolar yang semakin tinggi.
Di media sosial, banyak masyarakat juga mengeluhkan daya beli yang semakin tertekan karena harga barang dinilai perlahan mulai naik.
Diskusi mengenai rupiah yang menembus level Rp17.500 pun ramai diperbincangkan warganet Indonesia.
Sejumlah ekonom menilai pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas nilai tukar agar inflasi tidak semakin meluas.
Bank Indonesia bahkan diperkirakan dapat menaikkan suku bunga acuan untuk membantu menahan tekanan terhadap rupiah.
Meski demikian, pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih terkendali dan terus berupaya menjaga stabilitas harga serta pasokan kebutuhan masyarakat.
CINDY
Editor : Imron Arlado