JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Tren Thrifting atau membeli baju bekas yang masih layak pakai kini digemari oleh masyarakat. Selain menawarkan harga yang murah Thrifting Juga memberikan kualitas yang tidak main-main.
Dengan membeli pakaian bekas masyarakat tidak hanya menghemat kebutuhan melainkan juga mengurangi limbah tekstil dan menekan dampak negatif industri fashion terhadap lingkungan. Namun, di balik itu semua, ada potensi risiko kesehatan yang perlu kita waspadai, khususnya terkait penyakit kulit.
Dalam industri fashion dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Thrifting hadir sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan karena memperpanjang masa pakai. Inilah yang membuat thrifting kerap dikaitkan dengan konsep eco-friendly dan sustainable fashion.
Meski demikian, pakaian bekas berpotensi membawa bakteri, jamur atau bahkan parasit. Beberapa penyakit kulit juga dapat muncul, seperti gatal-gatal, infeksi jamur, dermatitis hingga kudis. Risiko ini meningkat apabila pakaian sebelumnya dipakai oleh penderita penyakit kulit atau disimpan dalam kondisi lembap dan kotor.
Dari sisi kesehatan, anak-anak dan orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah biasanya memiliki kulit yang sensitif dan perlu ekstra berhati-hati. kulit sensitif lebih mudah mengalami iritasi akibat sisa deterjen, jamur atau bahkan tungau. Gejala awalnya seperti kemerahan, rasa gatal berlebihan, hingga munculnya ruam.
Selain penyakit kulit, pakaian bekas yang tidak higienis juga berpotensi memicu reaksi alergi. Zat kimia dari pewarna tekstil, parfum, atau bahkan cairan pembersih yang digunakan pemilik sebelumnya bisa tertinggal di kain. Sehingga ketika bersentuhan langsung dengan kulit, zat tersebut dapat menyebabkan alergi. Oleh karena itu, mencuci pakaian thrifting secara menyeluruh sangat penting.
Dengan meningkatkan kesadaran akan kesehatan thrifting tidak hanya menjadi solusi yang ramah lingkungan dan ekonomis tetapi juga tetap aman bagi tubuh. TISA
Editor : Imron Arlado