Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, mendaratnya pasukan Sekutu di Surabaya pada Oktober 1945 memaksa pejuang untuk mengungsikan tawanan Jepang.
Para tahanan perang itu dipindahkan hingga ke luar daerah. ”Sebagian di antaranya dipindahkan ke Mojokerto,” paparnya.
Dari Kota Surabaya, tawanan Nippon tersebut diserahkan kepada Resimen Hizbullah Mojokerto.
Untuk mengamankannya, para tahanan ditempatkan di Pabrik Gula (PG) Gempolkrep yang saat itu dijadikan markas oleh pejuang.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, proses pemindahan tawanan Jepang diperkirakan dilakukan setelah peristiwa pertempuran 10 November 1945.
”Dari Surabaya, proses pemindahan tawanan ke Mojokerto menggunakan dua gerbong kereta api (KA),” ulasnya.
Namun, sebut dia, hanya satu gerbong yang berisi eks tentara Jepang. Sedangkan satu gerbong lainnya berisi logistik.
”Isinya kain dan uang,” ujar penulis buku Garis Depan Pertempuran Laskar Hizbullah 1945-1950 ini.
Setibanya di Mojokerto, para tawanan Jepang beserta logistik diamankan di sebuah ruangan di PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg. Sejak saat itu, Hizbullah meningkatkan penjagaan yang lebih ketat.
”Selain memastikan agar tahanan tidak kabur, penjagaan juga dilakukan agar logistik tidak hilang,” sebut Yuhan.
Situasi semakin tidak kondusif saat Kota Surabaya jatuh di tangan musuh. Kondisi tersebut membuat Pemerintahan Karesidenan Surabaya juga diungsikan ke Mojokerto pada Februari 1946.
Hingga akhirnya, pemerintah RI membuat kesepakatan dengan pasukan Sekutu untuk memulangkan semua tahanan perang ke negara asalnya.
Selain tawanan Jepang, pemulangan juga dilakukan bagi warga berkebangsaan Eropa. ”Sejak saat itu, Resimen Hizbullah akhirnya menyiapkan proses pemulangan tawanan Jepang dari Mojokerto,” tandas dia.
Anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini menyebutkan, para tawanan Jepang akan lebih dulu dipindah ke Malang. Selanjutnya, mereka akan dipulangkan melalui jalur laut ke negeri Samurai. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah