Ayuhanafiq menambahkan, sebelum dibangun Sipon Watudakon, para petani di daerah utara Sungai Brantas sering dihadapkan dengan persoalan kekeringan. Namun, setelah megaproyek irigasi itu selesai dibangun, areal pertanian bisa dengan mudah mendapatkan air tanpa tergantung hujan. ”Karena sebagian besar lahan pertanian di Gedeg dan sekitarnya dulu merupakan lahan sawah tadah hujan,” sambungnya.
Dia mengatakan, setelah melintasi Sipon Watudakon, aliran air sungai tersambung menuju Sungai Marmoyo. Di sepanjang aliran sungai tersebut dimanfaatkan para petani untuk mengairi sawah.
Rupanya, aliran sungai itulah yang menjadi salah satu alasan bagi asosiasi pabrik gula di Mojokerto dan Jombang rela membiayai pembangunan Sipon Watudakon. Karena para investor industri gula ingin memperluas lahan pertanian tebu untuk meningkatkan produksi.
Yuhan mengatakan, perluasan perkebunan tebu itu dilakukan dengan menerapkan sistem sewa kepada pemilik lahan melalui persetujuan dari pemerintah kolonial. Untuk bisa mendapatkan izin sewa tersebut, maka pabrik gula dipersyaratkan untuk membangun Sipon Watudakon dan saluran irigasi. ”Setelah sipon terbangun, pemerintah Belanda memberikan izin sewa lahan kepada pabrik gula untuk ditanam tebu,” imbuh dia.
Di samping itu, dengan terbangunnya Sipon Watudakon juga membawa manfaat bagi wilayah Kota Mojokerto. Terutama di Kelurahan Pulorejo yang dulu tergolong wilayah rawa. Sehingga kerap mengalami banjir saat penghujan tiba.
Namun, dengan terbuangnya genangan air melalui Sungai Watudakon, maka lahan di wilayah barat kota itu saat ini bisa menjadi permukiman. Selain itu, sebagian lahan lainnya juga bisa dijadikan areal pertanian produktif. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah