Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bekas Pemakaman Abad 18

Fendy Hermansyah • Minggu, 25 September 2022 | 14:04 WIB
DIPINDAH: Tim ekskavasi dan warga setempat tengah menggali dan memindahkan kerangka manusia tanpa identitas di Situs Watesumpak, kemarin. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojokerto)
DIPINDAH: Tim ekskavasi dan warga setempat tengah menggali dan memindahkan kerangka manusia tanpa identitas di Situs Watesumpak, kemarin. (Martda Vadetya/Jawa Pos Radar Mojokerto)
- Dugaan Arkeolog di Situs Watesumpak
- Temuan Kerangka Dipindah ke TPU Desa


TROWULAN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Temuan kerangka manusia di Situs Watesumpak, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, akhirnya di relokasi ke tempat pemakaman umum desa, kemarin pagi. Arkeolog menduga area situs tersebut tempat pemakaman pada abad ke-18.

Temuan tulang belulang di sisi barat situs itu semakin jelas usai digali sekitar pukul 09.00 kemarin. Itu rupanya kerangka manusia dewasa yang masih lengkap. Mulai dari tengkorak kepala hingga ujung jari kedua kaki. Kerangka manusia itu tampak membujur ke utara dan menghadap ke barat layaknya dimakamkan secara islam.

Kerangka manusia itu lantas dipindahkan ke pemakaman umum desa. ’’Tidak kami beri nama, karena di situs tidak ada tanda atau batu nisannya. Hanya kami beri tanda khusus di nisannya kalau ini pindahan dari situs,’’ ungkap Ketua Tim Ekskavasi Situs Watesumpak sekaligus Arkeolog BPCB Jatim Vidi Susanto, kemarin.

Dijelaskannya, kerangka manusia tersebut tidak se-zaman dengan kerajaan Majapahit. Terlihat dari pemakaman di salah satu situs yang masuk kawasan cagar budaya nasional (KCBN) Trowulan tersebut. ’’Makam islam se-zaman dengan Majapahit ada nisannya seperti Troloyo dan ada angka tahunnya. Sedangkan ini tidak ada tanda atau nisan sama sekali. Di masa berikutnya (setelah era Majapahit), dengan beberapa contoh kasus, justru makam islam tidak ada tanda khusus,’’ bebernya.

Diduga, lanjut Vidi, kerangka manusia tersebut dari abad 18. Bukan tanpa dasar, hal tersebut merujuk dari data yang diperoleh tim ekskavasi. Yakni, peta topografi tahun 1882-1892 era Belanda silam. ’’Dari peta tersebut, arena ini disebut sebagai javanese graven atau pemakaman umum waktu itu. Dari peta itu, bisa jadi makam ini lebih tua, sekitar abad ke -8. Jadi temuan tulang manusia ini wajar karena saat itu di sini sudah dijadikan makam,’’ terangnya.

Menurutnya, sejumlah situs cagar budaya di KCBN Trowulan lainnya juga dijadikan pemakaman oleh masyarakat di era tersebut. Mulai dari Situs Gapura Wringin Lawang, Bajang Ratu, maupun Candi Tikus. ’’Temuan ini sama seperti di bangunan gapura dan candi di masa Majapahit lainnya. Pada masa pemanfaatan berikutnya, ketika budaya pendukungnya saat itu sudah tidak ada, lalu dialih fungsikan sebagai pemakaman. Jadi (temuan tengkorak) ini merupakan hal yang wajar dan bukan istimewa,’’ ujarnya.

Pemanfaatan yang identik dengan pengerusakan situs tersebut, menurut Vidi, dilakakukan masyarakat era tersebut dengan sengaja dan sadar. Sehingga, sejumlah struktur situs tergerus aktivitas pemakaman yang ada di atasnya itu. ’’Itu dilakukan dengan sengaja dan mereka tahu kalau di sini ada situsnya. Seperti di Situs Kumitir, mereka sampai memotong sebagian situs,’’ tandasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
#situs watesumpak #bekas pemakaman #temuan tengkorak