
Oleh: Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa & PDT
ADA persoalan yang kerap luput ketika kita berbicara tentang pembangunan desa. Kita terlalu sering sibuk membangun fisik, tetapi belum sepenuhnya menyiapkan manusia yang akan menggerakkan pembangunan itu.
Urbanisasi tenaga kerja muda menjadi salah satu tantangan besar pembangunan desa. Banyak anak muda melihat kota sebagai satu-satunya ruang untuk menemukan masa depan. Desa akhirnya hanya menjadi tempat pulang, bukan tempat membangun harapan.
Padahal, desa memiliki potensi yang tidak kecil. Bonus demografi, sumber daya pertanian, UMKM, BUMDes, hingga peluang pengembangan pangan dan energi adalah modal yang dapat menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan potensi tersebut dengan keterampilan generasi muda.
Pada sebuah Diskusi tentang Pendidikan dan Vokasi Desa, di salah satu SMK di Kabupaten Mojokerto minggu lalu saya sampaikan sebuah tema, Penguatan Kapasitas & Kepemimpinan Generasi Muda Menuju Desa Industri dan Berkelanjutan kembali saya tekankan bahwa SMK dan satuan pendidikan vokasi tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai lembaga pencetak tenaga kerja bagi industri di kota.
Sekolah harus mulai mengambil peran sebagai engine of growth bagi kawasan perdesaan. Keterampilan yang dipelajari siswa harus mampu menjawab persoalan nyata masyarakat. Teknologi tepat guna dapat membantu petani meningkatkan produktivitas. Literasi digital dapat membuka pasar UMKM. Keahlian manajemen dan kewirausahaan dapat melahirkan unit-unit usaha baru di desa. Sehingga sekolah menjadi bagian dari ekosistem pembangunan desa.
Keberadaan BUMDes dan kehadiran Koperasi Desa Merah Putih sebagai entitas ekonomi masyarkat desa dapat menjadi ruang tumbuh bagi inovasi dan kewirausahaan anak muda. Koperasi Desa Merah Putih dapat memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat, memperluas jaringan usaha, dan membuka ruang partisipasi ekonomi yang lebih besar.
Anak-anak muda SMK dapat terlibat dalam pengembangan teknologi, produksi, pengemasan, pemasaran digital, hingga pengelolaan usaha. BUMDes menyediakan ruang bisnisnya, koperasi memperkuat ekosistem ekonominya, dan sekolah menyuplai pengetahuan serta inovasinya.
Desa tidak boleh selamanya menjadi pemasok bahan mentah. Produk lokal harus didorong memiliki nilai tambah, kualitas, kemasan, standar produksi, dan akses pasar yang lebih luas. Desa Ekspor bukan sekadar tentang membawa produk desa ke luar negeri. Ia adalah perubahan paradigma bahwa produk desa pun harus mampu bersaing di pasar yang lebih luas.


