
Oleh: M. Afif Zamroni
Staf Khusus Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal
ADA satu kebiasaan yang semakin mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari yakni menghakimi. Bukan di ruang sidang, melainkan di ruang-ruang digital. Seseorang melakukan kesalahan, lalu dalam hitungan menit ribuan komentar bermunculan. Ada yang mencela, mengejek, bahkan tidak sedikit yang merasa paling berhak menentukan siapa yang baik dan siapa yang buruk.
Media sosial memang membuat setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat. Namun pada saat yang sama, ia juga melahirkan ilusi bahwa setiap persoalan harus segera diberi penilaian. Kita menjadi begitu cepat menyimpulkan, tetapi begitu lambat memahami. Kita lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain daripada bertanya mengapa hal itu terjadi.
Ironisnya, kebiasaan ini perlahan merembes ke kehidupan nyata. Percakapan sehari-hari sering dipenuhi pembahasan tentang keburukan orang lain. Kesalahan seseorang menjadi bahan diskusi yang menarik. Aib orang lain berpindah dari satu grup percakapan ke grup yang lain. Padahal belum tentu semua cerita yang beredar benar adanya.
Dalam tradisi Islam, menjaga lisan dan menjaga penilaian terhadap orang lain merupakan bagian dari akhlak yang sangat ditekankan. Allah SWT berfirman: ’’Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.’’ (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menarik karena Allah menyebut tiga penyakit sosial sekaligus: berprasangka, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing. Ketiganya sering muncul secara berurutan. Prasangka melahirkan rasa ingin tahu yang berlebihan. Rasa ingin tahu berubah menjadi kebiasaan membuka aib. Setelah aib ditemukan, muncullah gunjingan yang menyebar ke mana-mana.
Padahal tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan. Setiap orang memiliki sisi yang tidak diketahui orang lain. Kita hanya melihat apa yang tampak di permukaan, sementara pergulatan hidup seseorang sering kali tersembunyi dari pandangan kita. Karena itu, penilaian yang terlalu cepat seringkali justru melahirkan ketidakadilan.
Rasulullah SAW pernah bersabda: ’’Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.’’ (HR. Muslim). Hadis ini tidak berarti Islam membenarkan kesalahan atau melarang kritik. Kritik tetap diperlukan, terutama terhadap kemungkaran yang berdampak luas. Namun Islam mengajarkan bahwa tujuan kritik adalah memperbaiki, bukan mempermalukan. Ada perbedaan yang sangat besar antara menegur karena cinta dan menghina karena merasa paling benar.
Sayangnya, budaya digital sering kali mendorong arah yang berbeda. Algoritma media sosial lebih menyukai kemarahan daripada kebijaksanaan. Konten yang penuh celaan lebih cepat menyebar daripada nasihat yang menenangkan. Akibatnya, sebagian orang tanpa sadar menjadikan komentar pedas sebagai bentuk hiburan.
