Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menyambut 1 Muharam dengan Optimisme

M
Penulis: Moch. Chariris❯
Dr HM Afif Zamroni, Lc, MEI, Staf Khusus Menteri Desa & PDT.
Dr HM Afif Zamroni, Lc, MEI, Staf Khusus Menteri Desa & PDT.

Advertisement

Oleh: Dr HM Afif Zamroni, Lc, MEI*

MOMENTUM 1 Muharam sebagai peringatan tahun baru Hijriah selalu dirayakan dengan berbagai kegiatan positif oleh umat Islam. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari doa bersama, pengajian, santunan anak yatim, kirab budaya, hingga kerja bakti membersihkan lingkungan. Hampir semua masjid, pemerintah daerah, hingga organisasi masyarakat memiliki agenda tetap dalam menyambut datangnya tahun baru Islam tersebut. 

Berbeda dengan perayaan pergantian tahun pada umumnya yang identik dengan kemeriahan dan hiburan. Peringatan 1 Muharam lebih menonjolkan nilai reflektif dan spiritual sebagai upaya meningkatkan kualitas iman serta memperkuat hubungan sosial masyarakat. Semangat perayaan ini mengingatkan kita pada keutamaan bulan Muharam seperti yang dijelaskan para ulama, bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab. Muharam bahkan disebut sebagai ”Syahrullah” atau bulan Allah. Rasulullah SAW bersabda: 

Advertisement

”Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.” (HR. Muslim). 

Selain memperkuat dimensi spiritual, peringatan 1 Muharam juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali nilai luhur gotong royong yang telah lama menjadi identitas masyarakat desa. Kegiatan kerja bakti membersihkan masjid, jalan desa, makam, maupun fasilitas umum lainnya bukan sekadar rutinitas sosial, melainkan simbol kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam gotong royong, masyarakat diajarkan bahwa tantangan seberat apa pun akan terasa lebih ringan jika dihadapi secara bersama-sama. Salah satunya dengan kegiatan khitanan massal dan santunan anak yatim. Nilai tersebut menjadi sangat relevan di tengah situasi global dan nasional yang penuh ketidakpastian. 

Advertisement

Tantangan ekonomi, perubahan iklim, juga dinamika sosial, menuntut masyarakat untuk memiliki daya tahan dan kemampuan beradaptasi yang kuat. Kita patut belajar dari semangat warga desa dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dan menjadikan momentum ini sebagai titik tolak untuk membangun optimisme kolektif. 

Berbagai aktivitas positif tersebut berangkat dari teladan tentang betapa pentingnya gotong royong dalam peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke negeri Yatsrib, yang kelak dikenal dengan nama Madinah Al-Munawwarah. Misalnya, bersatunya kaum penduduk asli, Ansor, dengan kaum pendatang, Muhajirin. Atau kerja sama dan gotong royong secara fisik dalam pembangunan Masjid Nabawi. 

Hal penting yang diajarkan dalam gotong royong ini adalah kesetaraan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab yang sama. Pada beberapa riwayat bahkan disebutkan Nabi Muhammad SAW juga ikut terjun langsung bekerja mengangkut batu dalam membangun masjid yang kini terdapat Raudhah, salah satu tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa. 

Semangat hijrah yang terkandung dalam peringatan 1 Muharam mengajarkan bahwa perubahan menuju kondisi yang lebih baik selalu mungkin dilakukan. Hijriah bukan hanya perpindahan fisik, melainkan transformasi sikap, cara berpikir, dan cara bertindak. Dari masyarakat yang pasif menjadi produktif, dari yang individualistis menjadi kolaboratif, serta dari yang pesimistis menjadi optimistis. 

Advertisement

Artikel Terkait

Lestari Alamku, Lestari Desaku

Lestari Alamku, Lestari Desaku

Penggalan lirik lagu "Berita Cuaca" karya almarhum Gombloh tahun 1982 tersebut terasa semakin relevan di tengah perubahan iklim dan meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi. Lagu itu bukan sekadar puisi tentang alam

RKP dan Pembangunan Partisipatif Desa

RKP dan Pembangunan Partisipatif Desa

MEMASUKI pertengahan Juni hingga awal Juli, pemerintah desa di seluruh Indonesia mulai disibukkan dengan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa. Mengacu pada Permendesa PDT Nomor 13 Tahun 2025, proses penyusunan

Wujudkan Desa Terdepan untuk Indonesia

Wujudkan Desa Terdepan untuk Indonesia

Desa memiliki peran vital dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Sebagai unit pemerintahan terkecil, desa tidak hanya menjadi tempat tinggal sebagian besar populasi, tetapi juga menjadi lokus utama pelaksanaan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer