Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Digitalisasi, Kapasitas Fiskal, dan Creative Financing

K
Penulis: Khudori Aliandu❯
M. Iwan Abdillah, Kepala BPKAD Kabupaten Mojokerto.
Kepala BPKAD Kabupaten Mojokerto M. Iwan Abdillah.

Advertisement

 Oleh: M. Iwan Abdillah, Kepala BPKAD Kabupaten Mojokerto 

TIGA frasa judul di atas adalah kunci hidup sehat di era BANI saat ini. Era BANI merupakan kelanjutan atau menggantikan era VUCA yang sudah sering kita dengar. Menurut beberapa ahli era BANI tingkat kerusakannya lebih parah yang digambarkan situasi dunia yang rapuh (brittle), memicu kecemasan (anxious), tidak linier (nonlinear), mustahil dipahami (incomprehensible). Dalam konteks pemerintah daerah, khususnya Pemkab Mojokerto, sebuah pertanyaan mendasar bagaimana membiayai program/kegiatan visi misi yang tertuang dalam RPJMD dapat dioptimalkan dan pada saat yang sama tekanan fiskal dampak pengurangan transfer keuangan ke daerah (TKD) yang begitu besar mencapai 359 miliar pada APBD 2026. 

Dalam tulisan singkat ini saya akan mencoba menganalisis secara sederhana dengan pendekatan teori evolusi Charles Darwin yang pernah saya pelajari di bangku sekolah dulu. Apakah nyambung? Teori ini universal. Sesuai kebutuhan, kita hendak membahas apa pun termasuk fenomena pengurangan transfer ke daerah (TKD) agar APBD tetap sehat sebagai modal penggerak utama terwujudnya visi Kabupaten Mojokerto yang lebih maju, adil, dan makmur. 

Advertisement

Darwin membagi beberapa tahapan teorinya ini yang juga dikenal teori Natural Selection (seleksi alam) menjadi 4 pilar penting. Yaitu, pertama struggle for life (berjuang untuk hidup) diperlukan inovasi untuk menjawab tantangan kondisi faktual, hanya ada 2 (dua) cara untuk menyelamatkan APBD, yaitu optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD) dan pengurangan belanja. Meningkatkan penerimaan PAD wajib hukumnya dilakukan dengan menambah potensi baru tanpa membebani masyarakat serta mengevaluasi belanja organisasi perangkat daerah (OPD) yang tidak produktif dan tidak berdampak langsung pada pelayanan masyarakat.

Butuh seni tingkat tinggi dan keberanian membuka peluang baru seperti yang dilakukan Pemkab Mojokerto. Misalnya, melalui disbudporapar melakukan renegosiasi perjanjian kerja sama dengan pihak lain yang sempat alot, salah satu poinnya membangun sistem aplikasi bersama dapat menambah pundi pundi baru di sektor pariwisata Kabupaten Mojokerto yang memang sangat potensial. 

Berikutnya, bapenda secara masif memasang tapping box di 95 pelaku usaha; restoran, hotel dan tempat hiburan. Semacam alat perekam transaksi online mencegah kecurangan dapat dimonitor secara real time bagian keadilan berusaha dan menggalakkan aplikasi Sipanjol (Sistem Informasi Pajak Daerah Online). 

Advertisement

Termasuk juga di BPKAD tempat di mana saya bertugas. Semua proses pengelolaan keuangan dilakukan digitalisasi, ini mendobrak mindset pengelolaan keuangan itu rigid, harus tanda tangan basah dan dokumen fisik yang sangat tebal, sudah dirombak melalui sistem Caraka, Purnadi, Teken, dan Keboanabrang. Kemudian mengoptimalisasi penerimaan dari sisi pemanfaatan aset melalui sistem terbaru kami, Amawabumi. Dan hampir semua OPD di Pemkab Mojokerto berlomba-lomba berinovasi mendukung kebijakan Gus Bupati yang menargetkan PAD kita tembus Rp 1 triliun secara bertahap. 

Sesuai road map targetnya bisa tercapai di tahun 2028. Saat ini target yang di patok masih Rp 881 miliar dan di rencanakan perubahan APBD 2026 akan naik menjadi Rp 900 miliar. Digitalisasi salah satu kunci APBD sehat menjawab tantangan era BANI dan keterbatasan fiskal daerah. Fiskal Kabupaten Mojokerto tahun 2025 masuk kategori sedang dengan rasio kapasitas fiskal 0,190. Sedangkan kontribusi PAD masih di kisaran angka 36% dari total pendapatan. Kemandirian fiskal menjadi tantangan serius yang wajib dijawab stakeholder di dalamnya, melalui digitalisasi di semua lini tata kelola pemerintahan dan pembangunan  khususnya pada pelayanan publik dan pengelolaan keuangan daerah, diharapkan peningkatan PAD dapat diwujudkan. 

Tahapan kedua teori Darwin; Survival of the fittes (bertahan dari paling fit/sehat). Siapa yang adaptif akan mampu bertahan. Di tengah disrupsi global dan sosial yang melanda dunia saat ini. Ibarat dalam permainan sepak bola yang saat ini sedang euforia piala dunia, pemain belakang atau disebut pemain bek bertugas menjaga wilayah pertahanan, mematahkan serangan dari tim lawan dan melindungi kiper agar tidak kebobolan.

Intinya adalah bertahan agar tidak kalah. Dan dapat meneruskan kompetisi sampai menjadi juaranya. Pulang bawa trofi piala dunia. Ilustrasi sederhana ini butuh effort yang kompleks untuk menjadi pemenang. Melalui proses panjang membentuk ketangguhan yang efektif dan efisien. Bukan sebaliknya, Tidak efektif dan tidak efisien. Sebagaimana contoh yang tidak efisien yang lagi ngetren hobi yang viral saat ini olahraga running yang sebenarnya bisa murah tapi kemudian menjadi gaya hidup yang tidak murah. Seperti outfit-nya, sepatu running-nya, headset-nya yang open air ear buds dan lain lainnya. Contoh lagi, Padel, yang dicap olahraga mewah dan klubnya yang umumnya premium. 

Advertisement

Artikel Terkait

Digitalisasi, Kapasitas Fiskal, dan Creative Financing Oleh M. Iwan Abdillah 

Digitalisasi, Kapasitas Fiskal, dan Creative Financing Oleh M. Iwan Abdillah 

Strategi Kepala BPKAD selamatkan APBD Mojokerto dari pangkas dana pusat Rp359 M. Lewat teori Darwin & analogi Avatar, ia tawarkan jurus digitalisasi, efisiensi, dan creative financing menuju PAD Rp1 T.

Gubernur Jatim: Tak Hanya Mengandalkan Dana Desa, Saatnya Desa Membangun Creative Financing

Gubernur Jatim: Tak Hanya Mengandalkan Dana Desa, Saatnya Desa Membangun Creative Financing

Pembangunan desa membutuhkan pembiayaan yang berkelanjutan. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong desa untuk tidak hanya bergantung pada Dana Desa atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes), tetapi

Dari Hari Santri Menuju Hari Desa

Dari Hari Santri Menuju Hari Desa

SETIAP kali Hari Santri Nasional diperingati, ingatan kita kerap tertuju pada perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi penanda penting bahwa pesantren tida

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer