Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cinta (dan) Mati

M
Penulis: Martda Vadetya❯
Oleh: Martda Vadetya*)
Oleh: Martda Vadetya*)

”Under love's heavy burden do i sink (di bawah beban cinta yang berat, aku tenggelam),” ucap Romeo pada Juliet. Ya, itu adalah salah satu kutipan dari kisah cinta Romeo dan Juliet. Karya fiksi William Shakespeare ini, bisa dibilang sudah mengkonstruksi publik sejak ratusan tahun lalu. Meski serupa tapi tak sama. Cerita sejoli remaja asal Italia itu terjadi di dunia nyata. Aspek percintaan yang mewarnai tewasnya seseorang.


Advertisement

Di Mojokerto, ada kasus polwan yang tega membakar suaminya hingga tewas pada Juni lalu. Mirisnya, sang suami juga seorang polisi. Briptu Rian Dwi Wicaksono, 27, tewas di rumah sakit akibat mengalami luka bakar lebih dari 90 persen.

Ia dibakar hidup-hidup oleh istrinya, Briptu Fadhilatul Nikmah alias Dila, 28, di garasi rumah dinasnya di asrama polisi Polres Mojokerto Kota. Briptu Rian yang menahun keranjingan judi online (judol) disebut membuat emosi Dila memuncak. Hingga melakukan aksi berujung maut itu.

Dila dengan sengaja membeli sebotol BBM jenis pertalite untuk disiramkan ke sekujur tubuh suaminya. Yang kala itu, Briptu Rian memilih pasrah diborgol di tangga lipat hingga disulut api.

Advertisement

Oleh aparat penegak hukum, kasus ini dikategorikan sebagai tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kini perkaranya sedang bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Oleh ahli psikiatri yang dihadirkan dalam sidang, Dila dinilai memiliki karakter keras dan emosional. Bahkan, mengindikasikan perilaku impulsif dan depresi dampak lingkungan, didikan keras orang tua, dan sejumlah faktor lain.

Banyak pakar psikologi sepakat, membunuh, aksi sadis, dan semacamnya, didorong adanya trauma pada masa lalu pelaku. Termasuk masalah mental dan sakit secara emosional. Itu dari sisi pelaku. Sementara dari sisi korban, Briptu Rian, dinilai pasrah karena mengaku bersalah tak bisa lepas dari judol.

Di balik itu, Briptu Rian dikenal "bucin" pada Dila. Sebelum meninggal di rumah sakit, dengan mudahnya ia memaafkan perbuatan Dila. Bahkan, sebelum insiden ini terjadi, Briptu Rian disebut beberapa kali mengalami KDRT hingga sejumlah luka lebam di wajahnya diketahui keluarga.

Advertisement

Ya, Briptu Rian tak pernah membalas atau menghindar sekalipun dari pukulan dan api yang disulut Dila sampai membakar tubuhnya. Alasannya, yang sempat diungkapkan Rian ke keluarganya, ia khawatir jika membalas perlakuan itu bisa mengancam nyawa Dila. Namun, Rian justru rela disakiti perempuan yang dinikahinya sejak 2021 silam hingga dikaruniai tiga anak itu.

Tampak jelas adanya ketimpangan sosial antara keduanya dalam menjalani rumah tangga. Selain itu, Senin (23/12) malam Teguh Hendardi, 24, warga Dusun Sepande, Desa Tambakagung, Kecamatan Puri, nekat nyemplung ke Sungai Brantas dari tanggul sisi selatan sebelah timur pintu Dam Rolak Songo. Hingga Kamis (26/12) keberadaannya belum ditemukan tim SAR gabungan yang sudah melakukan pencarian hingga hari ketiga.

Mirisnya, aksi nekat Teguh dilandasi persoalan asmara. Teguh disebut putus cinta dengan pacarnya sejak dua pekan lalu. Cintanya kandas setalah menjalin hubungan sejak sekitar 6 tahun lalu. Layakkah persoalan cinta dibayar tunai dengan tindakan fatal?

Pujangga sekaligus Profesor Sosiologi Sastra, Sapardi Djoko Pinurbo menyebut, cinta merupakan dasar eksistensi manusia. Pengalaman eksistnesial yang bermuara pada kesadaran akan kefanaan, keheningan dan kematian. Sapardi memaknai cinta sebagai hasrat untuk memiliki sekaligus melepas secara sederhana. Cinta yang tulus dan penuh pengorbanan, tanpa mengharapkan balasan apa pun. Cinta juga diukur dengan pengorbanan, bukan dengan kata-kata.

Haruskah persoalan cinta dengan pacar maupun pasangan (suami/istri) berujung kematian? Hakikatnya, manusia dibekali nalar untuk mengurai beragam masalah, serta mengambil keputusan dan bersikap bijak. Sementara menurut filsuf sekaligus pakar Psikolog Sosial asal Jerman, Erich Fromm, cinta adalah perjuangan aktif dan keterkaitan batin yang bertujuan pada kebahagiaan, pertumbuhan, dan kebebasan.

Cinta yang dimaknai Fromm, idealnya menawarkan empat dimensi. Yaitu, kepedulian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Fromm juga menekankan, seseorang yang tahu cara mencintai adalah ciri pribadi yang matang dan dewasa. Yang mampu membangun hubungan sosial dengan semua orang, karena telah mengenal diri mereka sendiri dan orang lain.

Banyak yang bilang cinta adalah bahasa paling sederhana. Tapi, mereka yang menjalani bisa dibuat tenggelam di dalamnya. Sekali lagi, apakah urusan cinta harus berujung hilangnya nyawa? (*)

*Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

Advertisement
Editor : Hendra Junaedi

Artikel Terkait

Menyiapkan Pemuda, Menjemput Masa Depan Desa

Menyiapkan Pemuda, Menjemput Masa Depan Desa

ADA persoalan yang kerap luput ketika kita berbicara tentang pembangunan desa. Kita terlalu sering sibuk membangun fisik, tetapi belum sepenuhnya menyiapkan manusia yang akan menggerakkan pembangunan itu.

Menakar Efektivitas E-Government di Kabupaten Sidoarjo: Menuju Pelayanan tanpa Jeda

Menakar Efektivitas E-Government di Kabupaten Sidoarjo: Menuju Pelayanan tanpa Jeda

Di era digital, konsep e-government bukan lagi sekadar jargon birokrasi modern, melainkan kebutuhan mutlak untuk menghadirkan pelayanan publik yang cepat, transparan, dan akuntabel.

Revitalisasi Pasar Tradisional: Nadi Baru Ekonomi Sidoarjo

Revitalisasi Pasar Tradisional: Nadi Baru Ekonomi Sidoarjo

Revitalisasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai perbaikan fisik semata. Memang, infrastruktur yang bersih, terang, dan tidak kumuh adalah syarat mutlak untuk menarik minat konsumen milenial maupun keluarga muda.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer