Ketegangan memuncak saat petugas kepolisian mencoba memadamkan ban yang dibakar massa dengan menendangnya menjauh dari gerbang kantor pemkot.
Sejak pagi, ratusan mahasiswa bersama elemen masyarakat mulai memadati depan Kantor Pemkot Mojokerto. Sambil membentangkan spanduk bernada kritik, mereka menyuarakan “rapor merah” atas satu tahun kepemimpinan Ning Ita dan wakilnya.
Massa menilai banyak janji kampanye yang belum terealisasi secara maksimal, terutama terkait sektor kesejahteraan masyarakat dan transparansi kebijakan daerah.
Ketua DPC GMNI Mojokerto Raya, Mohammad Thohir, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi publik terhadap kinerja pemerintah daerah.
“Kami ke sini membawa aspirasi rakyat. Satu tahun berjalan, tapi perubahan yang dijanjikan Ning Ita belum menyentuh akar rumput. Kami butuh bukti, bukan sekadar seremonial,” tegasnya.
Senada dengan itu, salah satu orator aksi, Jose, menyoroti sektor pembangunan infrastruktur yang dinilai belum sesuai dengan visi dan misi yang pernah disampaikan saat kampanye. Ia juga menyinggung proyek fisik yang dinilai mencederai kepercayaan publik, termasuk proyek wisata di kawasan Taman Bahari Mojopahit (TBM).
“Proyek TBM itu artefak nyata peninggalan masa lalu yang justru dilanjutkan oleh orang yang sama. Itu nyata di depan mata kita. Proyek TBM hanya akal-akalan saja,” serunya di hadapan massa.
Situasi mulai memanas saat perwakilan massa meminta Ning Ita keluar untuk menemui mereka secara langsung. Namun petugas Satpol PP dan kepolisian yang berjaga menyampaikan bahwa wali kota tidak berada di tempat karena memiliki agenda lain yang tidak dapat ditinggalkan.
Kecewa karena tidak ditemui, massa kemudian membakar ban bekas tepat di depan gerbang utama kantor pemkot sebagai simbol kemarahan.
Kericuhan pecah saat seorang petugas kepolisian terlihat menendang ban yang tengah berkobar ke arah halaman pemkot untuk menjauhkannya dari pintu gerbang. Tindakan tersebut memicu kemarahan demonstran yang menilai aksi itu berpotensi membahayakan keselamatan massa.
Aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat kepolisian pun tidak terhindarkan, meski situasi akhirnya dapat dikendalikan.
Karena tidak berhasil menemui wali kota, massa kemudian bergeser menuju Rumah Dinas Wali Kota di Jalan Hayam Wuruk. Di lokasi tersebut, perwakilan demonstran akhirnya ditemui oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Mojokerto, Heryana Dodik Murtono.
Dodik mengajak para mahasiswa untuk duduk bersama di pinggir jalan, tepat di depan rumah dinas wali kota, untuk berdialog secara langsung di tengah terik matahari. Dalam kesempatan itu, ia mendengarkan sejumlah tuntutan dan kritik yang disampaikan oleh perwakilan massa aksi terkait evaluasi satu tahun pemerintahan. (fan/fen)
Editor : Fendy Hermansyah