Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Putus Sekolah karena Kasihan Ortu Harus Menanggung Biaya

Fendy Hermansyah • Kamis, 4 November 2021 | 13:05 WIB
putus-sekolah-karena-kasihan-ortu-harus-menanggung-biaya
putus-sekolah-karena-kasihan-ortu-harus-menanggung-biaya

Putus sekolah, bukan hanya disebabkan bandelnya siswa. Namun, ada faktor lain yang memicunya. Seperti Ahmad Fahrozi. Ia memutuskan keluar dari sekolah karena kasihan dengan beban biaya yang harus ditanggung orang tuanya.


 


INDAH OCEANANDA, Gedeg, Jawa Pos Radar Mojokerto


 


Senyum mengembang keluar dari bibir Ahmad Fahrozi. Ia terlihat sangat bahagia setelah namanya diumumkan dan dinyatakan lulus dari jalur kejar paket B. Sekolah setara SMP ini ia tempuh selama tiga tahun.


Sekilas, penampilan Rozi tampak sama dengan peserta lainnya. Berseragam hitam putih. Hanya saja, yang menarik perhatian, lelaki 18 tahun ini tak memakai kemeja putih polos seperti wisudawan lain. Justru dia mengenakan seragam SMP lengkap dengan simbol OSIS dan bet di dadanya. ”Sengaja pakai ini karena memang tidak punya kemeja putih polos. Ini juga menjadi momen terakhir saya mengenakan baju ini sebagai tanda sudah lulus SMP,” ujarnya, Rabu (3/11) di aula pertemuan UPT Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Mojokerto, Kecamatan Gedeg.


Warga asal Desa Pagerluyung, Kecamatan Gedeg itu mengaku, momen wisuda kali ini menjadikan dirinya sadar betapa pentingnya arti pendidikan. Sebab, ia mengaku, sempat menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar.


Lima tahun lalu, Rozi sempat dikeluarkan dari salah satu sekolah negeri di Kota Mojokerto. Lantaran dia tak mengindahkan perkataan orang tua (ortu) dan guru dan sering bolos. ’’Enam bulan sekolah, saya bandel. Akhirnya dikeluarkan. Tapi, lama-kelamaan, saya merasa aneh kalau nggak sekolah. Akhirnya di tahun 2017 saya meneruskan sekolah lagi di salah satu SMP swasta,” papar dia.


Namun, di tahun kedua pendidikannya, Rozi memutuskan keluar. Pasalnya, Rozi menyadari sudah memberatkan orang tuanya yang harus menanggung biaya sekolah. Ia pun mencari sekolah sekaligus bekerja. Meski saat itu, ia masih berusia 17 tahun. ’’Akhirnya saya putuskan pindah ke SKB ini, karena waktunya bisa disesuaikan dengan jam kerja,’’ tegasnya.


Hingga saat ini, Rozi tercatat sebagai buruh di salah satu pabrik sandal dekat rumahnya. Anak bungsu dari empat bersaudara ini menceritakan, di SKB, pembelajarannya sama seperti sekolah umum. Bahkan, lanjutnya, sistem pengajarannya lebih mudah dipahami dan menyesuaikan kondisi muridnya. Seminggu, dia cukup masuk dua kali. Terkadang kalau tak bisa cuti bekerja, dia masih bisa melakukan pembelajaran dari grup WhatsApp. ’’Saya liburnya hari Minggu. Nah, setiap minggu ada dua kali pertemuan. Hari Kamis dan Minggu. Tapi saya jarang ikut yang Kamis karena kerja dari pagi sampai jam 4 sore,’’ terang Rozi.


Setelah lulus SMP, Rozi menyatakan bakal melanjutkan ke jenjang berikutnya. Yakni SMA. Tentunya, tetap di SKB lagi. Sebab, sambung dia, dirinya masih harus bekerja. Selain itu, dia juga sudah nyaman menyandang status pelajar sekaligus pekerja. Asalkan tak memberatkan beban kedua orang tuanya. ’’Tetap harus lanjut, biar bisa bekerja di pabrik lainnya yang agak besar lagi. Karena harus bantu orang tua juga, otomatis butuh ijazah yang mumpuni juga,’’ pungkasnya. (ron)

Editor : Fendy Hermansyah