Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Perpaduan Wisata Alam dan Religi

Fendy Hermansyah • Selasa, 16 November 2021 | 13:00 WIB
perpaduan-wisata-alam-dan-religi
perpaduan-wisata-alam-dan-religi

Wilayah utara Sungai Brantas muskil terlepas dari nama Watu Blorok di Dusun/Desa Kupang, Kecamatan Jetis. Bongkahan batu di tepi jalan penghubung Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Gresik yang sudah lama dikeramatkan itu bahkan melekat sebagai sebutan di kawasan hutan setempat. Kini, potensi wisata yang dulu pernah dirintis kembali dikaji.


Watu Blorok terdiri dari dua batu yang terpisah jalan raya. Berada di Dusun Kupang sebelah utara. Berjarak sekitar 500 meter dari permukiman terakhir penduduk. Kedua batu terpisah di kanan-kiri jalan raya. Batu sisi timur yang berada di bawah pohon berukuran lebih kecil. Berbeda dengan keberadaan batu sisi barat jalan yang tampak lebih mudah ditandai dengan kain putih yang menyelimutinya. Batu berdiamater sekitar satu meter ini dilindungi tenda sederhana beratap galvalum.


Selayaknya tempat ritual, di sekitar batu bisa ditemukan bekas-bekas sesaji. Seperti bunga tabur yang mulai mengering, rokok, dan telur, di permukaan batu. Hingga aroma dupa yang menguar dari bagian bawah. Sayang, sekarang pengguna jalan tak bisa melihat Watu Blorok secara langsung lantaran ditutup rapat dengan kain putih mengelilingi tenda. Warga menyebut, kain tersebut dipasang oleh seseorang asal Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, belum lama ini.


Joni, warga Dusun Kupang mengatakan, tradisi ritual di Watu Blorok memang tak sekuat dulu. Penduduk sekitar sudah jarang melakukan ritual. Justru, sebagain besar orang yang datang ke Watu Blorok kini berasal dari luar daerah. ’’Kebanyakan orang luar, kalau warga sini sudah tidak pernah. Kalau orang luar memang sering,’’ ucapnya.


Kelompok maupun perorangan yang meyakini kesakralan Watu Blorok datang dengan berbagai tujuan. Seperti pengharapan meminta perlindungan hingga dijauhkan dari marabahaya. ’’Biasanya bawa bunga, kadang ayam, kadang tumpeng,’’ imbuh pemilik warung kopi di sekitar lokasi tersebut. Fenomena tersebut bahkan ditangkap sebagai potensi wisata.


Kendati sempat gagal, kini wacana pembukaan kembali area wisata yang memadukan kawasan hutan dengan keberadaan Watu Blorok sebagai jujukan wisata religi kembali dibangkitkan.


Humas KHP Mojokerto Dwi Wahyono mengatakan, peluang untuk menghidupkan kembali wisata tersebut tetap terbuka. ’’Kalau wacana pasti ada. Menghidupkan sekaligus menguri-uri budaya,’’ terangnya.


Kendati demikian, belajar dari pengalaman, pihaknya kini mesti melakukan persiapan yang lebih matang. Pada masanya, tahun 1990-an, Perum Perhutani sempat merintis Wanawisata Watu Blorok di kawasan tersebut. Yakni berupa arena outbound hingga bumi perkemahan yang dipadukan dengan keberadaan Watu Blorok yang melegenda. Wisata sempat bertahan selama kurang lebih tiga sampai empat tahun. ’’Akhirnya lambat laun melihat situasi dan kondisi sepi. Akhirnya tidak jalan sampai sekarang. Bekas joglo-joglo itu masih ada,’’ jelas Dwi.


Pergantian pimpinan serta kurangnya dukungan finansial dan pomosi setidaknya menjadi penyebab wisata tersebut akhirnya mati. Perbedaan pandangan antara pimpinan lama dan baru membuat wisata tak terurus. Kondisi tersebut diperburuk dengan perencaan promosi yang kurang tepat. ’’Dananya untuk pengembangan saat itu terbatas. Seandaianya digandeng investor mungkin bisa jalan,’’ sebutnya.


Ke depan, pihaknya membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak. Baik dari swasta maupun pemkab sehingga bisa menghidupkan kembali wisata di Hutan Watu Blorok. (adi/abi)


 

Editor : Fendy Hermansyah