JAWA POS RADAR MOJOKERTO -Istilah “flexing” mulai terdengar beberapa tahun belakangan, beriringan dengan kisah para orang kaya yang hobi memposting kemewahan di media sosial. Banyak yang menyoroti perilaku ini dan berpendapat bahwa flexing adalah perbuatan ketidakpedulian.
"Flexing" merupakan istilah gaul yang berasal dari bahasa Inggris yang berarti "memamerkan". Dalam konteks budaya populer, terutama di media sosial, flexing merujuk pada tindakan seseorang memamerkan kekayaan, barang-barang mewah, pencapaian pribadi, atau gaya hidup glamor untuk mendapatkan pengakuan, pujian, atau status sosial.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), flexing diartikan sebagai perbuatan yang sengaja dilakukan untuk memperlihatkan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan tujuan untuk pamer dan menyombongkan diri.
Meskipun sering dipandang negatif, flexing tidak selalu buruk. Dalam konteks tertentu, flexing bisa menjadi bentuk motivasi, inspirasi, atau kebanggaan atas hasil kerja keras.
Namun, sisi negatifnya jauh lebih sering disorot, seperti:
- Meningkatkan kesenjangan sosial:
Flexing bisa memicu rasa iri, rendah diri, atau bahkan depresi, terutama bagi mereka yang merasa tidak mampu menyaingi gaya hidup tersebut.
- Budaya konsumtif:
Dorongan untuk tampil mewah kadang membuat seseorang memaksakan diri membeli barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan atau tidak mampu mereka beli.
- Pencitraan palsu:
Beberapa orang melakukan flexing dengan cara yang tidak jujur, seperti menyewa barang mewah hanya demi konten.
Penyebab seseorang Flexing:
- Mencari validasi:
Terkadang seseorang flexing karena ingin mendapatkan pengakuan. Biasanya agar harga dirinya naik.
- Fomo (Fear Of Missing Out)
Media sosial membuat seseorang merasa harus menunjukkan “aku juga sukses kok”. Tekanan untuk terlihat itu adalah hal yang luar biasa.
- Menutupi kekurangan
Seseorang ada yang flexing untuk menutupi rasa minder. Seperti, mungkin di bagian hidup lainnya tidak percaya diri, jadi menunjukkan sesuatu lewat barang mewah atau pencitraan.
- Budaya konsumtif
Di zaman sekarang, sukses itu sering diukur dari apa yang mereka punya. Jadi flexing itu seperti bukti bahwa mereka sukses.
- Citra diri
Flexing bisa menjadi cara untuk menunjukkan identitas. Misalnya agar dikenal sebagai ‘orang kaya’ atau ‘sultan’.
- Pengaruh circle
Lingkungan sekitar juga berpengaruh. Jika di lingkungan pertemanan mereka banyak yang flexing, jadi mereka berpikir “aku harus ikut biar nggak ketinggalan”.
Flexing adalah bagian dari dinamika sosial media saat ini. Di satu sisi, ia bisa menjadi bentuk ekspresi diri dan motivasi. Di sisi lain, jika tidak disikapi dengan bijak, flexing dapat menyebabkan tekanan sosial dan persepsi yang keliru tentang nilai diri.
Kuncinya adalah kesadaran. Tidak ada yang salah dengan menunjukkan pencapaian, selama itu dilakukan dengan jujur, tidak merendahkan orang lain, dan tidak menjadikan kemewahan sebagai satu-satunya tolak ukur kebahagiaan. NIYA
Editor : Imron Arlado