Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mahar dan Hantaran Pernikahan Simbol Mempersatukan Dua Hati

Moch. Chariris • Minggu, 28 April 2024 | 15:50 WIB
SUVENIR PENGANTIN: Sri Ufami menunjukkan karya hantaran pernikahan di galeri miliknya, di Dusun Karang Wungu, Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, kemarin (27/4).
SUVENIR PENGANTIN: Sri Ufami menunjukkan karya hantaran pernikahan di galeri miliknya, di Dusun Karang Wungu, Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, kemarin (27/4).

SESERAHAN atau hantaran menjadi salah satu tradisi barang bawaan yang wajib di setiap pesta pernikahan. Hantaran diberikan ketika mempelai pria datang ke kediaman keluarga mempelai perempuan sebelum acara resepsi pernikahan dimulai. Sebab, hantaran dapat dijadikan sebagai simbol dalam mempersatukan kedua keluarga mempelai.

 Owner El-Mahar, Sri Ufami, 34, mengatakan, dirinya sudah menggeluti usaha pembuatan mahar dan hantaran selama 8 tahun. Berawal dari keterampilan yang dimiliki sejak SMA, dia kini berhasil mengembangkan skill kerajinan tersebut hingga mampu mendatangkan cuan. Dari proses penjahitan, pengemasan, ide kreatif, sampai mendesain hantaran kekinian dan diminati, dikerjakan sendiri.

 ”Asalnya tetangga yang nyuruh buat mawar-mawaran waktu SMA kelas 3, akhirnya (sekarang) buka usaha ini,” ujarnya ketika ditemui di galerinya di Dusun Karang Wungu, Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kemarin (27/4).

 Dia mengungkapkan, memang dalam pengerjaan hantaran terdapat tingkat kerumitan tersendiri dari awal proses pembuatan. Kerumitan pembentukan itu biasanya dari segi suasana hati atau mood, dan segi bahan kain. Seperti bahan yang licin dan sulit dibentuk sesuai model dan konsep. Sehingga proses pengerjaan menjadi lama. ”Semestinya sehari bisa jadi 3-4 boks, itu nggak jadi-jadi karena bentuknya itu tadi,” ungkapnya.

 Ibu satu anak ini menjelaskan, selama ini dirinya sekadar menerima jasa sewa kotak hantaran. Sedangkan untuk isi hantaran biasanya dari pihak pengantin sendiri. Dia menuturkan, isi hantaran bagi pengantin pria dan perempuan hampir sama. ”Isinya hampir sama, kebutuhan dari atas kepala sampai ujung kaki, yang membedakan hanya di perempuan, pakai perhiasan. Sedangkan laki-laki tidak," jelasnya.

 Sri Ufami menambahkan, hantaran miliknya ini tidak menerima request, tetapi costumer bisa memilih warna bunga sesuka hati. Sebab hantaran karyanya memang memiliki ciri khas tersendiri, yakni menggunakan satu warna bunga. ”Kalau di luar, bunganya kan dicampur, saya punya ciri khas sendiri. Jadi cuma 4 (tangkai) bunga satu warna saja, bunganya saya usahakan impor agar terlihat asli," tandasnya.

 Sementara, Rista Aria Ningsih, 31 tahun, perajin hamparan asal asal Dusun Ngarus, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong mengaku mengawali usaha kreatif yang sama sejak 2016 silam. Berawal dari membuat ornamen hiasan hijab, kemudian berkembang menjadi usaha menghias mahar dan hantaran. ”Awalnya bikin brose, ornamen hiasan jilbab dan rambut, lama-kelamaan merambah ke buket, hiasan untuk mahar, serta hantaran pernikahan,” ungkapnya

 Rista mengaku jasa dari merangkai hantaran tersebut dibanderol dari Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu. Usahanya ini hanya menyediakan jasa penyewaan boks hantaran. Untuk isian boks sepenuhnya diserahkan kepada costumer, dan dia tinggal mengerjakan proses menghias dalam bentuk hantaran. ”Kan isi dan properti semua dari costumer, kita hanya merangkai dan menyewakan boks akrilik saja,” tuturnya.

 Perempuan 31 tahun ini menyebutkan, selama ini pesanan datang dari berbagai daerah. Seperti Gresik, Surabaya, Lamongan dan Mojokerto. Bisnis kreatifnya biasa ramai ketika acara-acara tertentu, terutama saat bulan-bulan musim hajatan, Syawal dan besar. ”Biasanya akan kebanjiran pesanan ketika bulan Syawal hingga Zulhijah,” tandasnya. (firza aulia ningrum/ris)

Editor : Hendra Junaedi
#hantaran lamaran #seserahan