Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tren Pakaian Adat Jawa, Motif Lurik jadi Incaran Konsumen, Salah Satunya Disebabkan Kebijakan Mendikbudristek, Kok Bisa?

Fendy Hermansyah • Jumat, 23 Februari 2024 | 22:25 WIB

LARIS: Haris menunjukkan kain lurik yang banyak jadi incaran masyarakat.
LARIS: Haris menunjukkan kain lurik yang banyak jadi incaran masyarakat.
KOTAJawa Pos Radar Mojokerto - Pakaian adat Jawa terpajang rapi di etalase ruang tamu Haris Yusuf Jalan Suromulang Dalam No.19, Surodinawan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, Kamis (22/2/2024).

Mulai dari lurik Jawa, lurik modern, hingga sewek tradisional Jawa sudah dia jual secara offline maupun online.

Haris mengatakan, usaha itu sudah dia jalankan sejak 2018 lalu. Berawal dari melihat foto masa kecilnya saat memakai busana adat Jawa, kini dia berinisiatif menjual pakaian tersebut.

Selain itu, dia juga ingin membantu mempromosikan hasil produksi pakaian Jawa milik keluarganya. "Keluarga saya yang di Jawa Tengah itu bagian produksi pakaian ini. Mulai dari ditenun sampai pemotongan kain," ujar bapak tiga anak tersebut.

Baju adat Jawa yang Haris jual memiliki beragam motif. Motif tersebut dulunya dipakai orang Jawa keraton. Mulai dari pemerintah kerajaan, prajutit dan petani.

"Kalau pemerintah kerajaan berwarna hitam putih, prajurit berwarna coklat dan petani berwarna hijau," sebutnya dengan menunjukkan pakaian adat di tokonya.

Nama baju antara laki-laki dan perempuan juga berbeda. Kalau laki-laki disebut surjan dengan garis horizontal melingkar dan memiliki saku. Sedangkan perempuan dengan garis vertikal dan memiliki kemben dari dada sampai perut.

Harga setiap ukuran pakaian adat juga berbeda. Untuk ukuran anak kecil sekitar Rp 50 ribu, dewasa Rp 70 ribu, dan yang jumbo Rp 85 ribu. Perbedaan harga tersebut tergantung jenis kain dan kerumitan motif.

Haris mengaku, setelah adanya kebijakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbutristek), toko pakaian adat Jawa miliknya kebanjiran pesanan.

KOSTUM ADAT: Kain lurik menjadi identitas pakian adat Jawa.
KOSTUM ADAT: Kain lurik menjadi identitas pakian adat Jawa.

Yang mana, memberlakukan pewajiban memakai pakaian adat setempat di lingkungan sekolah.

Mulai dari koperasi sekolah hingga komunitas peguyuban wali murid. "Setelah adanya kebijakan tersebut, alhamdulillah pesanan lurik Jawa mulai berdatangan," ungkap laki-laki 49 itu.

Konsumen yang membeli di toko Haris, biasanya untuk acara karnaval, reuni, seragam pariwisata, kenduren, hingga ruah desa.

Siti Khotimah, salah satu pembeli asal Mojosari mengatakan, meskipun baru pertama kali membeli pakaian adat di toko Haris, dia merasa puas dengan kualitas bahan dengan harga yang yang sesuai.

"Saya hanya membeli empat baju untuk disewakan ke acara ruah desa. Motif yang saya pilih adalah motif klasik. Dengan harga Rp 70 ribu per baju, saya anggap sesuai karena kualitas bahan dan motifnya bagus," jelas perempuan 45 tahun itu.

Dari penjualan pakaian adat Jawa miliknya, Haris mengaku mendapat penghasilan yang cukup baik. Meskipun tidak setiap hari baju adat miliknya laku, dia tekun mempromosikan ke media sosial.

"Penghasilan jual baju ini gak tentu. Kadang rame, kadang sepi. Jadi selama satu bulan kira-kira dapat Rp 5 Juta," pungkasnya. (Nailul Mufarichah/fen)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#pakaian #lurik #mojokerto #Adat #jawa