PACET, Jawa Pos Radar Mojokerto – Gapura Pasar Rakyat sekaligus Rest Area Mojo Kembangsore Park (MKP) di Desa Petak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, ambruk. Robohnya gapura setinggi 9 meter tersebut diduga karena kontruksi yang kurang bagus alias rapuh.
Salah satu gapura yang menjadi bagian pembangunan tembok mengelilingi gedung baru hasil bantuan keuangan (BK) desa senilai Rp 1 miliar tersebut tak mampu menahan guyuran hujan semalaman.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, ambruknya gapura berkonsep Majapahit di pintu masuk pasar rakyat terjadi sekitar pukul 06.00. Kerasnya runtuhan gapura bata pres ini bahkan sempat membuat warga syok. ’’Brak…brak… Suaranya keras. Kirain ada motor tabrakan,’’ tutur warga sekitar.
Suara ambruknya pagar juga membuat warga sempat mencari sumber suara. Tidak tahunya, salah satu bagunan gagura ambruk tinggal separo. ’’Memang kualitasnya perlu dipertanyakan,’’ tambahnya di lokasi.
Beruntung tidak sampai ada korban jiwa. Sebab, lokasi itu kerap menjadi jujukan warga olahraga pagi. ’’Blai slamet. Biasanya ada orang mondar-mandir,’’ tandasnya.
Pantauan di lokasi, sejumlah pekerja membersihkan material yang berantakan. Diangkut truk. Sesekali, mereka merobohkan sisa-sisa gapura bagian atas yang retak-retak. Untuk menghindari kerusakan makin parah di musim hujan, pekerja menutupi gapura yang tinggal separo dengan terpal.
Bendahara Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Pembangunan MKP, Sukandar Wibowo, membantah jika ambruknya gapura tersebut karena konstruksi bangunan yang kurang bagus. ’’Kualitas tidak bermasalah. Sudah sesuai dengan spesifikasi,’’ ungkapnya.
Menurutnya, saat mengerjakan dirinya tak berani mengurangi sepesifikasi sedikit pun. Meski kualitasnya bisa dijamin, gapura setinggi 9 meter itu runtuh akibat derasnya guyuran hujan yang terjadi semalaman di lereng Gunung Welirang.
Wibowo tidak tahu persis apa yang menjadi penyebab abruknya gapura yang mengelilingi Pasar Rakyat MKP. Namun, Wibowo menduka, kerusakan bangunan yang dibangun 2018 menggunakan BK Desa dari Pemkab Mojokerto senilai Rp 1 miliar itu dikarenakan faktor alam. Setelah, hujan deras dalam kurun waktu sekitar pukul 21.00-23.00 Kamis (13/2) terjadi di area Pacet. ’’Ada petir juga. Besar. Tidak tahunya, tadi pagi pukul 06.00 ada informasi kalau gapura roboh. Jadi faktor utama hujan deras dan petir,’’ terangnya.
Sontak kondisi itu membuatnya terkejut. Sebab, pasar rakyat sekaligus objek wisata yang bakal menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Petak sejauh ini statusnya belum diresmikan. Peresmian ini ditargetkan April mendatang. Dengan demikian, pembersihan dan pembenahan ulang pun akan dilakukan. ’’Maksimal selesai tiga mingguan. Karena belum diresmikan, ini masih menjadi tanggung jawab kami,’’ tandansya.
Perlu diketahui, pasar rakyat ini dibangun di atas tanah kas desa (TKD) Petak seluas 1,7 hektare. Pembangunan fisik ini dibangun sejak 2017 dengan beberapa tahapan. Dengan total penyerapan anggaran dari BK Desa sebesar Rp 11 miliar lebih. Dengan rincian Rp 5 miliar di 2017, Rp 5 miliar tahun 2018, Rp 1 miliar 2019, dan Rp 200 juta di 2020. ’’Ini faktor bencana alam,’’ ungkap Kades Petak, Supoyo, di lokasi.
Pihaknya berharap gapura ini bisa cepat diperbaiki agar kembali seperti sediakala. ’’Memang masih belum serah terima. Ini masih kewenangan TPK,’’ tandasnya.
Editor : Imron Arlado