Meski dikepung pasar modern hingga mal yang berkembang di Kota Mojokerto, tak menyurutkan geliat ekonomi yang dihadirkan oleh pasar malam. Kerinduan akan suasana masa lampau atau oldies menjadi penghibur masyarakat saat berbelanja.
PASAR malam bahkan menjadi ajang keseruan bagi pengunjung dalam menikmati segala macam hiburan yang disediakan, mulai dari permainan, aneka dagangan hingga panggung hiburan yang biasa tersaji setiap malam tiba. Bermacam permainan mulai dari bianglala, kora-kora, kereta-keretaan, hingga ombak banyu yang berhias lampu warna-warni seolah tak terkalahkan dalam menarik simpati masyarakat.
’’Di pasar malam kan ditawarkan bermacam hiburan dalam satu tempat ya. Jadi, seperti mengenang masa kecil. Kalau di mal atau pasar modern kan monoton hanya itu-itu saja sih,’’ ungkap Rizal Setiawan saat mengunjungi Radar Mojokerto Fest 2023, kemarin. Tidak hanya hiburannya, Rizal yang datang bersama rekannya Iik Rahmawati mengaku ketertarikannya mengunjungi pasar malam tak lepas dari faktor variasi produk dan harga yang dijual. Di mana, banyak sekali produk mulai dari kerajinan tangan, fashion, kuliner, hingga mainan tradisional yang semuanya hasil kerja pelaku usah kecil dan menengah (UKM).
Sehingga harganya relatif terjangkau dan aman bagi kantong pengunjung. Hal ini berbeda jauh dengan mal atau pusat perbelanjaan modern jika menawarkan barang branded yang biasa dijual di mal. ’’Harganya juga murah serta banyak sekali yang dibutuhkan sehari-hari,’’ tambah Ella, pengunjung lain.
Tak hanya bagi pengunjung, eksistensi pasar malam dengan nuansa oldies dan outdoor nyatanya masih dibutuhkan bagi para pelaku UKM. Meski transaksi jual-beli mulai beralih ke digital, akan tetapi transaksi offline dianggap masih relevan dalam mengangkat ekonomi pasca pandemi Covid-19.
Hal ini sekaligus untuk menunjukkan eksistensi industri kreatif yang tak kalah berkualitas jika dibandingkan dengan produk industri pabrikan. ’’Justru semakin sering adanya event langsung yang berbasis industri kreatif, malah semakin menunjukkan produk UKM juga digemari masyarakat,’’ ujar Tri Widiatmoko, pemilik konveksi Empukeris asal Desa/Kecamatan Puri ini. Senada dengan Tri, geliat pasar malam diharapkan terus berkibar meski digempur pasar modern dan digital.
Selain untuk menunjukkan eksistensi pelaku usaha kecil, juga untuk memberikan hiburan lain bagi masyarakat. Bahkan, Pemkot Mojokerto melalui Diskopukmperindag turut mendorong event pasar malam agar ekonomi mikro terus bergeliat. Dengan begitu, maka roda ekonomi masyarakat bisa terangkat lewat penjualan produk-produk lokalnya.
’’Kami sendiri setiap tahun tiga hingga empat kali menawarkan gelaran pasar offline agar bisa diisi pelaku usaha kecil dan menengah. Dengan begitu, perputaran uang bisa dirasakan langsung oleh UKM dan UMKM,’’ tutur Kadiskopukmperindag Kota Mojokerto, Ani Wijaya. Namun Ani juga menyaratkan agar pasar malam tidak sekedar menyuguhkan suasana oldies saja.
Suasana entertainment juga harus bisa disajikan agar pengunjung lebih terkesan. Hiburan musik, film, hingga festival kuliner juga bisa menjadi pemantik kunjungan lebih besar. ’’Kalau bisa sajian produknya juga bisa dengan nuansa entertainment. Seperti fashion baju yang dikerjakan di lokasi, atau kuliner yang menawarkan proses memasak di tempat. Dengan begitu, maka pengunjung akan lebih simpati. Termasuk juga diselingi festival musik atau pemutaran film agar semua kalangan bisa menikmati,’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah