Tasya Farasya Jalani ‘Sleep Therapy’ Usai Hasil Pemeriksaan Gelombang Otak Tunjukkan Insomnia
Imron Arlado• Minggu, 24 Agustus 2025 | 23:59 WIB
Tasya Farasya, memposting video yang memperlihatkan dirinya sedang menjalani terapi dengan menggunakan berbagai alat medis di tubuhnya. (instagram: tasyafarasya)
JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Tasya Farasya, influencer kecantikan terkenal di Indonesia, baru-baru ini menarik perhatian publik.
Hal itu terjadi setelah ia memposting video yang memperlihatkan dirinya menjalani terapi dengan berbagai alat medis yang terpasang di kepala dan tubuhnya.
Banyak orang penasaran tentang kondisi kesehatan yang tengah dihadapinya, ternyata, Tasya Farasya sedang menjalani terapi tidur, suatu prosedur medis yang dilakukan untuk mengatasi masalah tidur yang dites sebagai insomnia.
Sebelumnya, Tasya telah menjalani analisis gelombang otak dengan menggunakan metode EEG, hasilnya menunjukkan dominasi gelombang beta dan dan high beta.
Pola aktivitas otak yang biasanya muncul saat seseorang berada dalam keadaan waspada tinggi, terfokus secara berlebihan, atau mengalami cemas.
Dalam waktu yang bersamaan, gelombang delta yang seharusnya menjadi paling dominan ketika seseorang tidur dalam fase terdalam justru sangat sedikit, ketidakseimbangan ini menjadi bukti kuat adanya masalah tidur atau insomnia.
Tujuan dari terapi tidur yang dijalani Tasya Farasya adalah untuk mengembalikan aktivitas gelombang otaknya ke kondisi normal, agar otak dapat beristirahat dengan baik saat tidur.
Terapi ini sangat penting mengingat insomnia bukan hanya soal sulitnya tidur, tetapi juga terkait dengan kondisi di mana otak tidak bisa masuk ke dalam keadaan tenang yang diperlukan untuk tidur berkualitas.
Insomnia sendiri memiliki berbagai jenis yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang, insomnia akut adalah jenis yang terjadi dalam waktu singkat, biasanya disebabkan oleh stres, perubahan lingkungan, atau gangguan emosional sementara.
Selanjutnya, insomnia kronis terus berlangsung selama satu bulan atau lebih dan sering kali berkaitan dengan kondisi media atau gangguan psikologis yang mendasarinya.
Ada juga insomnia onset, yaitu kesulitan dalam memulai tidur. Jenis lain adalah insomnia maintenance, di mana seorang individu sering terbangun di malam hari dan mengalami kesulitan untuk kembali tidur.
Selanjutnya, insomnia terminal merujuk pada kebiasaan terbangun terlalu pagi tanpa kemampuan untuk tidur kembali.
Yang terakhir, ada juga insomnia idiopatik, yang penyebab pastinya tidak dapat dijelaskan dan sering berlangsung sejak masa kanak-kanak.
Keputusan Tasya Farasya untuk menjalani terapi tidur mencerminkan pentingnya pendekatan medis dalam menghadapi isu tidur yang serius.
Banyak orang masih menganggap insomnia sebagai masalah sepele yang tidak memerlukan perawatan profesional.
Padahal gangguan ini bisa sangat memengaruhi kualitas hidup, fokus, serta kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan.
Pengalaman Tasya Farasya memberikan contoh bahwa kejujuran tentang masalah kesehatan pribadi dapat berfungsi sebagai pendidikan publik mengenai pentingnya menjaga kualiutas tidur dan kesehatan otak. Dzafir Kirana Adelia/Devi