Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Surganya Kuliner Tradisional, Sajikan Jamasan di Bulan Sura

Moch. Chariris • Selasa, 9 Juni 2026 | 06:58 WIB
MENUNGGANG KUDA: Ajang kirab budaya dalam rangkaian ritual Jamasan Pusaka Nagari bulan Sura yang digelar Pasar Keramat, Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, 2025 lalu. (Chariris JPRM)
MENUNGGANG KUDA: Ajang kirab budaya dalam rangkaian ritual Jamasan Pusaka Nagari bulan Sura yang digelar Pasar Keramat, Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, 2025 lalu. (Chariris JPRM)

PACET - Pesona Pasar Keramat, Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto kurun tiga tahun terakhir ini selalu menyita perhatian wisatawan. Tak sekadar menghadirkan surganya kuliner tradisional autentik, pasar jajanan berkonsep kearifan lokal di bawah rimbunnya hutan bambu tersebut juga sukses melestarikan kesenian dan budaya.

Di antara yang membuat pasar dengan 100-an pedagang lokal ini kian menjadi jujukan wisatawan dari berbagai daerah adalah special performance musik campursari Mahesasura dan pagelaran budaya ritual Jamasan Pusaka Nagari. ’’Jamasan ini menyimpan arti membuang kesialan bagi para generasi muda,’’ ujar Hamengku Keramat atau Kepala Pasar Keramat Kabul Raharja Utama, kemarin (8/6).

Ritual tersebut biasanya digelar setiap bulan Sura atau bulan Muharam di tahun baru Islam. Bulan Sura tahun 2025 lalu, misalnya, pasar yang hanya buka di hari pasaran Minggu Wage dan Kliwon ini menggelar ritual Jamasan Pusaka Nagari. Beberapa pemuda mengenakan kain serbaputih menjalani prosesi ritual jamasan di atas panggung.

Mereka kemudian diarak menuju sumber petirtaan Pasar Keramat dengan iringan rombongan budaya sebagai tahap penyucian diri dari segala bentuk energi negatif. ’’Di dalamnya nanti juga ada kirab gunungan dengan membagikan seribu nasi keramat gratis kepada wisatawan,’’ imbuhnya.

Nasi tersebut hasil sentuhan ibu-ibu setempat yang mengandalkan bumbu olahan rempah tradisional, lengkap dengan telur dan daging ayam Jawa, lalu dibungkus daun kemedur. Kabul Raharja Utama menuturkan, pada 2026 ini, sedianya ritual Jamasan Pusaka Nagari bakal digelar pada Minggu Wage (21/6) mendatang. Yakni, sepekan setelah mereka turut meramaikan event Jamasan Suro Segoro di Pasar Segoro, Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Sabtu (13/6).

DIGEMARI: Pedagang jajanan lawas saat melayani pembeli di Pasar Keramat, Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Pasar ini biasa buka dua kali dalam setiap bulan, di hari pasaran Minggu Wage dan Kliwon. (Chariris JPRM)
DIGEMARI: Pedagang jajanan lawas saat melayani pembeli di Pasar Keramat, Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Pasar ini biasa buka dua kali dalam setiap bulan, di hari pasaran Minggu Wage dan Kliwon. (Chariris JPRM)

Dia mengungkapkan, selain mengurangi kenakalan remaja, tradisi jamasan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap tumbuh kembang generasi muda sebagai pusaka negara atau unjung tombak masa depan bangsa.

’’Artinya, investasi generasi dari sisi moral, tata krama, dan pandangan hidup yang berasaskan Pancasila. Sehingga kelak menjadi generasi yang berdaya, berbudaya, dan bermanfaat,’’ tandasnya.

Sekadar diketahui, pasar yang diresmikan tahun 2022 silam ini mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Untuk sekali buka, pasar yang turut menjalin kerja sama dengan Yayasan Bambu  Lingkungan Lestari (YBLL) Jatim (Environmental Bamboo Foundation/EBF) tersebut mampu menggulirkan pendapatan Rp 80 juta hingga Rp 100 juta. Nilai ini diterima dari hasil penjualan pedagang menggunakan sistem transaksi uang gobog dan parkir kendaraan yang dikelola masyarakat desa.

Field Officer Program YBLL Jatim Sahlan Junaedy menambahkan, keberadaan lembaga kelestarian lingkungan yang dinaunginya dalam Pasar Keramat ini bertujuan untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat.

Utamanya terkait menjaga, melestarikan, dan memanfaatkan hutan bambu berbasis panen lestari. ’’Prinsipnya, kami ingin mempertahankan pangan dan membentuk ekosistem yang baik. Jika dulu bambu dianggap sampah dan tidak berguna, sekarang justru bernilai manfaat tinggi,’’ tandasnya. (ris/fen)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#kuliner tradisional #bulan sura #pasar keramat #jamasan pusaka #pasar mojokerto