Kue pancong tersebut dijual menggunakan stan yang menarik perhatian ’’Kue Pancong Pocong’’, pembeli akan tertarik dengan kue tersebut.
Erlina Naswa, penjual kue pancong pocong mengatakan, dirinya sudah berjualan selama setahun. Diakuinya, banyak pembeli dari kalangan remaja.
Mereka juga suka dengan varian toping yang ditawarkan.
’’Harganya itu beda-beda, tergantung rasa. Kalau porsi basic yang setengah loyang itu Rp. 10.000 dan yang 1 loyang itu Rp. 19.000. Kalau rasa lumayan banyak, Mbak. Ada blueberry, chocolate, green tea, strawberry, tiramisu, taro, dan lainnya. Kalau topping,’’ jelasnya.
Kue pancong yang dijual Naswa sama seperti kue pancong pada lainnya.
Dia menggunakan bahan-bahan yang berkualitas dan diracik sesuai arahan dari pemilik stan yang ditempatinya.
’’Bahannya sama, ada tepung, telur, gula, mentega dan fernipan. Semua diaduk jadi satu, ditunggu sampai mengembang, kemudian dicetak sesuai pesanan dan dikasih topping ada oreo, milo, meses, dan almond,’’ ujar gadis 20 tahun itu.
Setiap hari Naswa mulai membuka stan kue pancong pukul 11.00 hingga 19.00 WIB. Biasanya, stan kuenya ramai pembeli saat akhir pekan.
Dia juga mengaku saat musim hujan biasanya mengalami penurunan penjualan. Ketika pengunjung minimarket sepi, jumlah penjualannya juga ikut sepi.
Konsep ’’Kue Pancong Pocong’’ yang diusung tidak terlalu dia pahami, tetapi konsep tersebut hanya untuk menarik minat pembeli.
Kelembutan dari kue pancong ini banyak digemari para pembeli. Rasa manis yang pas dan gurih juga membuat kue tersebut nikmat di makan kapan saja.
’’Biasanya satu hari bisa habis 30 pack, kalau habis semua bisa menghasilkan Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung cuaca dan ramai pengunjung minimarket,’’ pungkas Naswa. (Nailul Mufarichah/fen)
Editor : Fendy Hermansyah