Bagian tengah merupakan dataran sedang, dan bagian utara adalah daerah perbukitan kapur yang kurang subur.
Mojokerto kaya akan cerita sejarahnya, ditandai dengan banyaknya peninggalan dari kerajaan Majapahit.
Adanya banyaknya tempat bersejarah ini bisa membantu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Berikut adalah tempat-tempat bersejarah yang wajib dikunjungi oleh wisatawan untuk mengetahui sejarah Mojokerto.
Halaman depan museum Trowulan di Trowulan, Mojokerto (Google Photo Fafa Voice for JPRM)
1. Museum Trowulan
MUSEUM Trowulan adalah tempat wisata sejarah yang terletak Trowulan, Mojokerto. Museum ini merupakan tempat penyimpanan berbagai artefak dan temuan arkeolog yang ditemukan di sekitar Trowulan. Artefak-artefak yang ada di dalam museum ini kebanyakan dari peninggalan Kerajaan Majapahit.
Dengan harga tiket masuk yang murah, yaitu Rp 5 ribu saja, wisatawan bisa melihat sekaligus belajar sejarah di sini. Wisatawan bisa mengunjungi tempat ini kapan pun karena tempat ini buka setiap hari dengan operasional dari pukul 08.00-15.00 WIB.
Museum trowulan memiliki halaman yang luas, asri, bersih, dan rapi, membuat para wisatawan merasa nyaman. Serta setiap artefak terdapat papan penjelasam yang begitu informatif membuat wisatawan tidak hanya berwisata dan melihat-lihat saja. Tetapi mampu mengedukasi para wisatawan mengenai sejarah-sejarah di dalamnya.
2. Candi Brahu
CANDI Brahu adalah salah satu bangunan berserjarah yang berada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamanan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Nama “Brahu” sendiri diduga berasal dari kata “Wanaru” atau “Waharu” yang merupakan nama bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti tembaga Alasantan yang diemukan sekitar 45 meter dari sebelah barat Candi Brahu.
Material yang digunakan untuk membangun candi ini adalah batu bata merah. Candi ini didirikan sekitar abad le-15 Masehi dengan gaya dan kultur Buddha. Dalam Prasasti Alasantan yang ditulis oleh Mpu Sindok pada 9 September 939 M, disebutkan bahwa tempat ini adalah tempat pembakaran jenazah raja-raja Brawijaya. Namun, hal in belum bisa ditentukan kebenarannya oleh pakar wisata sejarah, karena tidak ditemukan bukti adanya bekas abu atau mayat.
Wisatawan bisa mengunjungi tempat ini kapan pun karena tempat ini buka setiap hari dengan operasional dari pukul 07.00-1600 WIB. Wisatawan hanya dengan tarif Rp 3 ribu dan tarif parkir sendiri ditarik Rp 3 ribu, sudah bisa memasuki wilayah Candi Brahu dan menikmati banyak hal disini seperti prasasti, arsitektur, pemandangan, dan sejarah Candi Brahu. Selain menikmati tempatnya, wisatawan juga bisa menikmati beragam kuliner yang dijual di sekitar lokasi wisata.
Dalam penilaian pengunjung ada beberapa kritikan yaitu tentang kurangnya papan informasi tentang sejarah Candi Brahu dan tidak adanya lahan parkir untuk mobil. Sehingga para pengunjung yang membawa mobil harus memarkirkan di tepi jalan.
3. Candi Tikus
CANDI Tikus adalah salah satu candi peninggalan dari kerajaan bercorak Hindu yang berada di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Diketahui, nama “tikus” ini hanya sebutan dari masyarakat sekitar, karena konon ketika candi ini ditemukan, tempat candi ini menjadi sarang tikus.
Awalnya, candi tikus ini terkubur dalam sebuah perkuburan rakyat dan ditemukan kembali pada tahun 1914. Kemudian atas laporan Bupati Mojokerto R. A. A. Kromojoyo Adinegoro dilakukanlah penggalian. Pemugaran dilakukan secara menyeluruh pada tahun 1984-1985.
Wisatawan bisa mengunjungi tempat ini kapan pun karena tempat ini buka setiap hari dengan operasional dari pukul 07.00-16.00 WIB. Wisatawan hanya dengan tarif Rp 3 ribu sudah bisa memasuki wilayah Candi Tikus dan menikmati fasilitas taman serta sarana belajar sejarah bagi anak.
4. Patung Buddha Tidur
PATUNG Buddha tidur merupakan salah tempat wisata religi yang biasa digunakan ibadah umat Buddha. Patung Buddha tidur ini terletak di dalam Maha Vihara Mojopahit di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Patung ini merupakan patung terbesar di Indonesia dan terbesar ketiga d Asia Tenggara. Patung ini berwarna emas yang menggambarkan wafatnya Pangeran Siddharta Gautama. Patung ini dibangun menghadap ke arah selatan, sesuai dengan kiblat umat buddha.
Wisatawan bisa mengunjungi tempat ini kapan pun karena tempat ini buka setiap hari dengan operasional dari pukul 08.00-17.00 WIB dengan tarif masuk dikenakan Rp 5.000 untuk dewasa, sedangkan untuk anak-anak dikenakan tarif Rp 3.000. Dengan harga tiket masuk yang murah tersebut, wisatawan sudah bisa menikmati fasilitas yang disediakan, serta belajar sejarah mengenai patung dan tempat itu.
5. Petirtaan Jolotundo
PETIRTAAN Jolotundo adalah salah satu bangunan petirtaan yang dibuat pada zaman Airlangga atau kerajaan Kahuripan. Petirtaan ini berada di lereng utara Gunung Penanggungan, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Banyak yang menyebutkan bahwa tempat ini merupakan tempat pertapaan Airlangga setelah mengundurkan diri dari tahtanya dan digantikan oleh anaknya. Uniknya adalah debit air petirtaan ini tidak pernah berkurang meskipun musim kemarau.
Petirtaan ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara untuk pria, dan bagian selatan untuk wanita. Hal ini membuktikan adanya pemisahan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki dalam melakukan ritual kuno.
Motif-motif yang terhias pada dinding petirtaam menunjukkan adanya pengaruh budaya Hindu. Selain itu, air di petirtaan Jolotundo ini dipercaya mempunyai khasiat penyembuhan dan dapat memberikan kesucian.
Tempat wisata bersejarah buka 24 jam setiap hari dengan tarif masuk dikenakan Rp 10.000 untuk dewasa, sedangkan untuk anak-anak dikenakan tarif Rp 7.500.
Dalam penilaian pengunjung semuanya positif yaitu tempat yang nyaman, area bersih, air yang dingin. Ada bebearapa juga kritik seperti adanya galon berjajar di tepi kolam. (Firza Aulia Ningrum/fen)
Editor : Fendy Hermansyah