Berlokasi di Jalan Surodinawan, depan Masjid Al-Hikmah, Kecamatan Prajurit Kulon, lapak Onde-onde Ubi Ungu Kenno ini buka mulai pukul 07.00 hingga 15.00 sore. Nella Riska, pemilik Onde-onde Ubi Ungu mengatakan dia baru memulai usaha jajanan pasar ini April lalu. Sehari, ia bisa menjual sekitar 300-800 biji onde-onde.
"Kalau hari biasa bisa laku 300 biji. Pas Sabtu-Minggu bisa laku sampai 800 biji, karena banyak dibuat oleh-oleh," ujarnya. Per biji, onde-onde ketela ungu ini dijual Rp 2500 ribu.
Nella menuturkan, onde-onde buatannya ini 90 persen asli dibuat dari ubi ungu. Sisanya dicampur dengan tepung ketan. Tepung ketan sendiri ditambahkan dalam adonan untuk merekatkan biji wijen. "Kalau varian isinya masih pakai kacang hijau. Terkadang, kalau hari Minggu saya juga buat varian coklat, karena kadang ada yang request," papar dia.
Wanita 31 tahun ini mengungkapkan, onde-onde berbahan ubi ungu ini lebih awet dibandingkan yang dibuat dari tepung ketan. Dia mengungkapkan, onde-onde buatannya tersebut bisa tahan hingga tiga hari.
Sebab, onde-onde ubi ungu ini sempat dibawa ke Kalimantan oleh salah satu pelanggannya. "Ternyata, dia bilang masih enak tiga hari. Rasanya juga empuk dan tidak alot seperti onde-onde biasanya. Isiannya juga masih awet, tidak basi," jelas dia.
Dia menyebut, sejauh ini pembelinya masih warga lokal Mojokerto. Namun, onde-onde kreasinya kerap dibawa sebagai buah tangan ke luar kota. Seperti Jakarta, Malang, hingga Kalimantan.
Nella mengaku, sebelum mendirikan usaha, ia sempat melakukan eksperimen setahun. Itu untuk menghasilkan onde-onde ubi ungu yang enak.
"Gagal dulu sering, pas digoreng meledak. Ternyata, kuncinya di kandungan air ubinya. Satu ubi sama yang lain punya kandungan yang beda, jadi takaran air dalam adonan juga harus disesuaikan kondisi ubi," tandasnya. (oce/fen) Editor : Fendy Hermansyah