Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Dagongan, Olahraga Tradisional Asal Minahasa

Yulianto Adi Nugroho • Senin, 5 Agustus 2024 | 18:30 WIB

 

Photo
Photo

KEBALIKAN dari tarik tambang, pemenang permainan ini ditentukan dari regu yang berhasil mendorong lawan hingga tumbang. Namanya adalah dagongan, olahraga tradisional rakyat Minahasa yang kini dipertandingkan secara internasional.

 Dikutip dari laman Warisan Budaya Kemendikbud, dagongan memiliki arti tolak menolak. Makna itu terkandung dalam permainan yang menggunakan bambu sebagai peralatan utama ini.

Pertandingan dagongan melibatkan dua regu yang masing-masing terdiri dari 5 pemain.

 Kedua tim saling berhadapan dengan memegang bambu di kedua sisi layaknya permainan tarik tambang.

Bambu yang digunakan, seperti dilansir Traditional Games Return, minimal memiliki panjang 10 meter.

 Dalam pertandingan, setiap tim akan berusaha menjatuhkan lawannya dengan mendorong bambu sekuat tenaga.

Hal ini berkebalikan dengan tarik tambang yang dimainkan dengan cara menarik tali tambang hingga salah satu tim kalah.

 Adapun secara aturan main, pertandingan dagongan menggunakan sistem tiga set dengan set terakhir sebagai penentu. Setidaknya atlet dagongan dituntut memiliki ketuatan fisik bagus dan kerja sama tim yang baik.

 Sebagai olahraga tradisional, dagongan telah dipertandingkan di ajang Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS).

Selain itu, dia juga menjadi olahraga dunia dengan menjadi salah satu cabang olahraga internasional seperti di Tafisa World Sport di Portugal.

 Di ajang Invitasi Olahraga Tradisional Jatim 2024 yang digelar di Ngawi pekan lalu, tim dagongan putri Kabupaten Mojokerto sukses menyabet medali perunggu. Mereka mengalahkan tim Tuban di partai perebutan juara ketiga. (adi/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#dagongan #olahraga tradisional