Binaraga merupakan salah satu cabang olahraga yang unik. Sebab, olahraga ini bukan soal adu kekuatan di arena pertandingan, melainkan kontes memamerkan bentuk fisik tubuh yang kekar. Namun demikian, penilaian dalam kompetisi binaraga rupanya tak hanya soal besar-besaran ukuran otot.
Mengutip sejumlah sumber, setidaknya terdapat empat kriteria utama penilaian lomba binaraga. Indikator itu mencakup penampakan otot secara fisik hingga kebolehan atlet saat tampil di depan dewan juri.
Massa atau ukuran otot memang menjadi penilaian utama dalam olahraga binaraga. Atlet dengan otot tubuh lebih besar dari peserta lain kemungkinan meraih nilai yang lebih tinggi. Tapi, hal itu tidak cukup. Seberapa baik dan vaskular otot-otot tersebut juga menjadi objek penilaian juri.
Dalam kompetisi binaraga, juri juga memperhitungkan keseimbangan otot satu sama lain. Ini artinya, bentuk tubuh besar saja tidak cukup, tetapi juga perawakan estetis atau enak dilihat. Aspek simetri tubuh ini menjadi kriteria yang kedua setelah massa otot. Artinya, tubuh seorang binaragawan atau binaragawati harus proporsional dan tidak ada yang terlalu kecil atau terlalu besar.
Kriteria berikutnya ditentukan dari penampilan atlet saat kompetisi. Penilaian ini mendorong atlet untuk tampil sebagus mungkin di atas panggung sehingga mampu mengesankan para juri. Berbagai kriteria itulah yang setidaknya membuat olahraga binaraga cukup unik.
Prestasi seorang atletik binaraga berarti bukan hanya ditentukan di atas panggung melainkan juga latihan berat yang dijalaninya sehingga menghasilkan bentuk tubuh yang sesuai kriteria.
Binaraga sebagai sebuah olahraga telah dikenal sejak lama. Di Indonesia, olahraga yang dinaungi Perkumpulan Binaraga dan Fitness Indonesia (PBFI) ini mulai populer sejak 1950-an dan dipertandingan dalam berbagai kompetisi. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi