Sedikitnya 30 pria bergantian mengangkat Tumpeng Ageng di Jalan Raya Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Mereka lantas lakukan kirab tumpeng tersebut menuju pemakaman umum kelurahan setempat, Kamis (9/3) pagi.
Momentum ini merupakan bagian dari prosesi hangruwat dusun atau nyadran. Salah satu tradisi yang masih terpelihara dan rutin dihelat warga Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, di bulan ruwah atau menyambut bulan suci Ramadan.
Lurah Blooto Wahyudi menyatakan, tradisi nyadran ditujukan untuk mengirim doa kepada leluhur, terutama Mbah Jimat, leluhur Lingkungan Kemasan. ’’Tujuannya, yang pertama adalah kirim doa kepada para leluhur yang sudah membuka Lingkungan Kemasan ini. Sehingga kami berkewajiban untuk kirim doa sebagai wujud rasa syukur kami,’’ tuturnya.
Ratusan warga, dari anak-anak hingga dewasa begitu antusias mengikuti kirab tumpeng setinggi kurang lebih 1,5 meter diiringi kesenian Reog Ponorogo, Barongan, serta pawai budaya.
Wahyudi menjelaskan, tumpeng berisi nasi putih, lauk pauk, hingga serabi, ciri khas tradisi nyadran yang memiliki makna tersendiri. Sedangkan sajian lauk ikan bandeng dan mujair diartikan sebagai bentuk kesederhanaan dan harapan, serta ketahanan masyarakat Lingkungan Kemasan dalam berbagai kondisi.
Aneka makanan itu sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang berlimpah. ’’Kita hanya menggunakan ikan loh (bandeng dan mujair), tidak ada ayam, sapi, atau kambing. Kalau serabi sendiri memang kue khas di nyadran ini. Filosofinya, serabi itu kan bunder (bulat) yang melambangkan kebulatan tekad dalam melaksanakan sesuatu, juga dimaksudkan agar guyub rukun ini tidak sampai terpecah belah,’’ terang Wahyudi.
Kerukunan dan suasana kekeluargaan begitu terlihat di pengujung acara diakhiri. Yakni, dengan purak tumpeng di areal pemakaman Mbah Jimat. Warga lantas berbondong-bondong mengambil berbagai kudapan untuk dimakan bersama di rumah masing-masing maupun di lokasi. (fia/fen)
Editor : Fendy Hermansyah