Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kirab Malam Selikuran Keraton Solo Digelar, Sambut Lailatul Qadar di Malam 21 Ramadan

Imron Arlado • Rabu, 11 Maret 2026 | 20:56 WIB

Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta membawa lampion dan jodang saat kirab Malam Selikuran di Solo, Senin (9/3).
Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta membawa lampion dan jodang saat kirab Malam Selikuran di Solo, Senin (9/3).

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Tradisi kirab Malam Selikuran kembali digelar oleh Keraton Kasunanan Surakarta pada Senin malam (9/3). Prosesi budaya yang rutin dilaksanakan setiap Ramadan ini menjadi simbol penyambutan malam ke-21 Ramadan yang diyakini sebagai awal datangnya malam Lailatul Qadar.

Kirab ini diikuti ratusan abdi dalem, alim ulama hingga perguruan silat. Semua peserta mengikuti kirab dengan penuh khidmat. Mereka berjalan beriringan sambil membawa obor dan lampion yang menerangi jalannya arak-arakan di kawasan sekitar keraton.

Kirab Malam Selikuran yang dihadirkan kubu Pakubuwono XIV Purboyo ini dimulai dari Bangsal Sewoyono Sitihinggil, berlanjut ke Pagelaran Sasana Sumewo, Gladak, Jalan Slamet Riyadi dan berakhir di kawasan Taman Sriwedari.

Pengageng Parentah PB XIV Purboyo, KGPH Dipokusumo menjelaskan bahwa Malam Selikuran memiliki makna spiritual yang berkaitan dengan datangnya malam Lailatul Qadar, pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

"Jadi Malam Selikuran itu adalah bagaimana tata cara upacara Keraton dalam rangka syiar agama Islam. Khususnya dalam hal ini adalah kaitannya dengan Lailatul Qadar tanggal 21 puasa atau Ramadan," kata KGPHAP Dipokusumo

Selain obor dan lampion, para abdi dalem juga membawa jodang yang berisi aneka makanan serta tumpeng. Dalam tradisi ini turut dihadirkan Tumpeng Sewu atau seribu tumpeng kecil yang menjadi simbol kemuliaan malam Lailatul Qadar yang diyakini lebih baik dari seribu bulan.

Setelah prosesi doa selesai, makanan yang dibawa dalam kirab tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Tradisi berbagi ini menjadi simbol sedekah dan kebersamaan antara keraton dengan masyarakat.

Kirab Malam Selikuran merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Mataram Islam dan terus dilestarikan hingga kini oleh Keraton Surakarta. Kata “Selikuran” sendiri berasal dari bahasa Jawa selikur yang berarti dua puluh satu, merujuk pada malam ke-21 bulan Ramadan.

Tradisi ini juga tidak lepas dari pengaruh dakwah para Wali Songo yang menggunakan pendekatan budaya untuk mengajak masyarakat meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Selain memiliki makna spiritual, kirab Malam Selikuran juga menjadi salah satu daya tarik budaya di Kota Solo yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahunnya. Ribuan warga biasanya memadati kawasan sekitar keraton untuk menyaksikan prosesi kirab obor yang berlangsung meriah namun tetap sarat nilai religius.  RIRA

Editor : Imron Arlado
#Selikuran Surakarta #KGPH Dipokusumo #PB XIV Purboyo #Kirab Malam Selikuran Keraton Kasunanan #surakarta