Kegiatan yang menjadi bagian dari agenda Ramadan Budaya ini digelar di pusat kuliner Pasar Semeru Wates, Jalan Semeru, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Minggu (8/3) malam.
Pertunjukan yang berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB tersebut menjadi ajang berkumpulnya para pelaku seni reog dari berbagai wilayah di Mojokerto.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antar paguyuban reog.
Sejumlah paguyuban turut memeriahkan acara tersebut, di antaranya Singo Mudho Tarunojoyo, New Singo Yudho, Margo Utomo, Satrio Tunas Mudho, Singo Sanjoyo, Singo Gembong, Singo Putro Budoyo, Singo Joyo Mulyo, Singo Ludro, Arek Budoyo, serta Kuda Karya yang menampilkan berbagai atraksi khas reog.
Penanggung jawab kegiatan, Siswanto, mengatakan bahwa Ramadan Budaya digelar sebagai wadah mempertemukan kembali para seniman reog sekaligus menjaga eksistensi kesenian tradisional di Mojokerto.
“Tujuan kegiatan ini supaya paguyuban reog di Mojokerto bisa berkumpul kembali. Di Ponorogo sudah ada tatanan budaya seperti itu, jadi Mojokerto juga mengadakan kegiatan serupa yang kami sebut Ramadan Budaya. Beda nama saja, tapi tujuannya sama,” ujarnya.
Menurut Siswanto, kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga merupakan langkah nyata dalam melestarikan kesenian tradisional agar tetap dikenal oleh generasi muda.
“Kami berharap Ramadan Budaya bisa menjadi ruang bagi para seniman reog untuk terus berkarya dan menjaga warisan budaya. Selain itu, masyarakat juga dapat menikmati pertunjukan seni tradisional yang menjadi kebanggaan daerah,” tambahnya.
Kegiatan Ramadan Budaya sendiri rutin digelar setiap tahun selama bulan Ramadan. Selain menjadi ajang pertunjukan seni, kegiatan ini juga menjadi momentum reuni bagi para seniman reog, termasuk para sesepuh yang telah lama vakum dari dunia kesenian.
Melalui kegiatan yang melibatkan berbagai paguyuban tersebut, panitia berharap kesenian Reog Ponorogo di Mojokerto dapat terus berkembang dan kembali berjaya seperti masa sebelumnya, sekaligus menjadi kebanggaan budaya daerah di tengah perkembangan zaman. (rif/fen)
Editor : Fendy Hermansyah