Dalam Sajak Berdua Plus Satu
ANTOLOGI Sajak Berdua Plus Satu karya tiga penyair-Herry Lamongan, Pringgo HR, dan Bambang Kempling-menawarkan pengalaman membaca yang bukan sekadar puitis, tetapi juga filosofis. Ketiganya menulis dengan arah yang berbeda namun saling berkelindan dalam tema besar: kehidupan yang terus bergerak di antara luka, waktu, dan malam. Dengan menggunakan pendekatan semiotik serta dukungan analisis statistik ala Voyant Tools, tiga kata kunci itu muncul berulang dan membentuk poros makna utama antologi ini.
Dalam puisi-puisi Herry Lamongan, ’’waktu’’ tampil sebagai entitas spiritual, bukan sekadar hitungan kronologis. Dalam sajak-sajak seperti ’’Tentang Waktu’’, ’’Hangat Usia’’, dan ’’Meneduhkan Sabtu’’, waktu dihadirkan sebagai ruang kesadaran. Ia mengalir di antara doa dan kenangan, menjadi perantara antara yang fana dan abadi. Herry menulis, ’’kita mungkin cuma abadi dalam sajak,’’ kalimat yang sekaligus menjadi kredo penyair dalam melawan kefanaan. Secara semiotik, ’’waktu’’ berperan sebagai ikon perjalanan spiritual: simbol daun, jam, dan senja menjadi metafora akan keterbatasan manusia. Puisi-puisi Herry meneguhkan bahwa waktu bukan musuh, melainkan guru yang menuntun manusia memahami arti keberadaan.
Sebaliknya, Pringgo HR memusatkan puisinya pada ’’luka’’. Kata ini bukan hanya muncul sebagai motif tematik, tetapi menjadi identitas puitik. Dalam sajak ’’Luka Merdeka’’, ’’Luka Senja’’, hingga ’’Sebuah Luka di Tanah Tenggulun’’, ia menulis penderitaan sebagai bahasa ingatan. Luka di tangan Pringgo bukan sekadar rasa sakit personal, melainkan metafora penderitaan sosial dan sejarah. Ia menulis dengan bahasa yang lugas namun sarat simbol, menghadirkan suasana getir yang justru memunculkan keindahan. Dalam kerangka semiotik, ’’luka’’ adalah kode penderitaan kolektif, penanda bahwa manusia selalu berurusan dengan kehilangan dan kenangan. Luka menjadi cara untuk bertahan, untuk tetap hidup meski dalam kesakitan. Puisinya memperlihatkan bahwa kesedihan yang jujur bisa menjadi bentuk keindahan tersendiri.
Sementara itu, Bambang Kempling menghadirkan ’’malam’’ sebagai simbol perenungan dan penyucian batin. Puisinya, seperti ’’Sajak Pendek Buat Sahabat’’, ’’Epilog Suatu Bukit’’, dan ’’Seakan-akan Masih Abadi’’, menggunakan malam bukan sebagai kegelapan, melainkan sebagai ruang hening tempat jiwa berdialog dengan dirinya sendiri. Dalam teori semiotik Riffaterre, ’’malam’’ menjadi hipogram, yaitu latar makna yang menumbuhkan kesadaran. Ia adalah ruang peralihan antara terang dan gelap, antara dunia luar dan dunia batin. Kempling menulis kesunyian dengan kelembutan, menggunakan metafora embun, jam, dan cahaya redup untuk menyampaikan pesan bahwa di balik gelap, selalu ada pendar yang menuntun manusia kembali pada cahaya.
Jika ketiga kata kunci-waktu, luka, dan malam-dibaca bersama, kita menemukan struktur makna yang saling mengisi. Waktu menjadi perjalanan, luka menjadi bekasnya, dan malam menjadi ruang penyembuhannya. Dalam konteks semiotik Roland Barthes, ketiganya membentuk lapisan tanda: dari makna denotatif (waktu sebagai kronologi, luka sebagai rasa sakit, malam sebagai kegelapan) menuju makna konotatif (waktu sebagai kesadaran, luka sebagai sejarah, malam sebagai doa). Maka Sajak Berdua Plus Satu dapat dibaca sebagai teks yang menyingkap makna eksistensial manusia: bahwa hidup bukan tentang melawan kefanaan, tetapi belajar menerima dan menafsirkannya.
Ketiga penyair ini menulis dari ruang batin yang berbeda, namun bersama-sama mereka mengajukan pertanyaan yang sama: bagaimana manusia menghadapi dirinya sendiri di tengah perubahan dan kehilangan. Herry Lamongan memaknai waktu sebagai keabadian yang dicari; Pringgo HR menulis luka sebagai sejarah yang harus diterima; dan Bambang Kempling menemukan malam sebagai tempat berdamai dengan sunyi. Antologi ini menjadi cermin dari perjalanan manusia yang menua, terluka, dan pada akhirnya pasrah pada keheningan.
Dengan bahasa yang indah namun jujur, Sajak Berdua Plus Satu berhasil melampaui batas puisi konvensional. Ia menjelma menjadi semiotika kehidupan, teks yang menuturkan perjalanan manusia dari penderitaan menuju penerimaan, dari waktu menuju doa, dari luka menuju pengampunan. Membacanya seperti memasuki malam panjang yang tidak kelam-karena di dalamnya, kita belajar bahwa setiap luka akan sembuh ketika manusia mampu berdamai dengan waktu dan dirinya sendiri. (*)
Tentang Penulis : Moh. Arif Susanto, Dosen Universitas Negeri Surabaya.
Tentang Buku
Judul : Sajak Berdua Plus Satu
Penulis : Herry Lamongan, Pringgo HR, Bambang Kempling
Penerbit : Lensa PUBLISING, Lamongan
Tahun Terbit : 2025 Cetakan Pertama
Editor : Hendra Junaedi